Yang Tercatat dari Batu dan Daun Cemara

October 28th, 2008 by hanggoraras-berkisah

YANG TERCATAT DARI BATU DAN DAUN CEMARA

Berikan batu dan daun cemara tertinggi di Pulau Jawa ini pada anak- anak sastra!” (Soe Hok Gie)

Seorang pemuda, kurus badannya, duduk di puncak Gunung Semeru danmeneriakkan kata-kata itu dengan lantang. Dia seperti menemukan kembali dirinya, menemukan begitu saja apa yang dia cari selama ini. Bahkan ketika jenazahnya dibawa turun ke tanah, sepertinya kata-kata itu masih bergema. Namanya, Soe Hok Gie, seorang mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI. Tapi lupakan sejenak Gie, karena batu dan daun cemara tertinggi itulah yang akan dikupas, dan mengapa harus anak-anak sastra yang menerimanya.

Dipercaya atau tidak, sastra adalah awal peradaban. Manusia kuno mencoret, menggambar, meramal, dan itulah peradaban dimulai dengan sastra, meskipun istilah sastra belum dipakai pada saat itu. Dan itulah batu, sebuah tonggak yang tidak dengan main-main dipancangkan. Sastra juga yang menjadi perlambang bahwa sastra tidak bisa sembarangan dihilangkan, karena bila dihilangkan maka akan hilang pula peradaban. Itulah daun cemara tertinggi, sebuah pencapaian alami manusia. Rentetan sejarah yang mengalir dalam diri manusia itu bernama sastra. Sastra adalah sesuatu yang berbeda karena batu yang sudah dipancang dan daun cemara tertinggi yang dicapai.

Pertanyaan yang ketiga, mengapa harus anak-anak sastra yang menerimanya? Pendidikan seperti apa yang akan dijalankan dengan sastra? Apakah anak-anak sastra masih menyimpan batu dan daun cemara, menyimpan konsistensi dan idealisme sebagai anak sastra? Sistem membuat sejarah berputar, sistem yang membuat segalanya juga berubah. Mahasiswa seperti kehilangan ruh “sastra” dan mulai gamang menentukan, akankah jadi idealis atau apatis? (meski dalam konteks menjadi mahasiswa masih ada pilihan untuk menjadi oportunis, skeptis dan lain sebagainya). Ruang-ruang “sastra” tak lagi dibuka, budaya berdialektika seperti hilang begitu saja, dan perang tulisan sudah tidak pernah lagi ada. Yang tersisa hanyalah sebuah ungkapan Jawa, “Nerima ing pandum.” Menerima apapun yang diberikan, memakan apapun yang disuapkan.

Pendidikan, apapun bentuknya adalah sebuah cara yang paling efektif bagi tiap manusia untuk mengembangkan diri, menggali kehidupan. Dan karena sudah di kapitalkan, kita justru punya pilihan tegas, memilih yang terbaik. Sebagai konsumen, tidak ada salahnya kita memilah dan memilih apa yang akan kita beli. Di sini, kami adalah konsumen untuk universitas terbaik ini. Kami memilih menjadi mahasiswa jalur non reguler, transfer dari Diploma III.

Perlahan, kemampuan kami beradaptasi dituntut berjalan dengan cepat menyerap apa yang dilaksanakan dalam sistem pendidikan yang diselenggarakan pihak universitas. Rupanya pluralitas dalam kelas, yang separuh berasal dari universitas lain, tidak begitu saja bisa menerima kebijakan-kebijakan yang berlaku. Kuliah berjalan terus, menelan ilmu setiap hari. Tak ada budaya sastra (apalagi beasiswa) bagi kami. Sistem yang ada sedikit banyak memberikan pola yang sulit untuk kami terima. Kami harus belajar untuk mencetak nilai bagus dan IPK cum laude ketika lulus nanti. Idealisme kami bahwa ilmu haruslah bermanfaat, dan itu adalah tanggungjawab moral pendidikan. Insting dan “darah muda” memang saatnya bergolak. Kami haus informasi dan fasilitas untuk bergerak. Kami sadar, harus ada inisiatif mandiri untukbabat alas, membuka jalan ke depan dengan lebih sering berdialog dan melebarkan wawasan dengan cara kami sendiri. Diskusi buku, film, sampai obrolan ringan mengenai kegiatan-kegiatan kampus yang kami temui. Belum membuka jalan, hanya sedikit membuka celah. Yang kami usung, konsistensi namanya. Seperti kata Emha Ainun Nadjib, konsistensi kelak yang akan membuka jalan. Di sini kami berusaha mengurai simpul-simpul dialog yang tertutup, membuka kembali ruang-ruang sastra yang tak lagi terpakai, dan berperang wacana dengan tulisan. Mengembalikan ruh sastra.

Tapi perkara “sastra mau kemana?”, kami tak tahu. Apa yang kami kembalikan memang hanya sekedar hidup di dalam komunitas kecil kami. Sastra Inggris yang justru tidak ada jurusan sastra murninya, atau dialog satu arah perkuliahan setiap hari, mungkin itu juga masa depan kami. Karena itu yang kami hadapi setiap hari.

Sastra adalah media, tempat mondar-mandirnya informasi dan ilmu yang tak terukur nilainya, lebih tepatnya pergumulan peradaban. Dan pendidikan dalam jalur sastra berarti membangun karakter. Karakter mahasiswa sastra yang cerdas dalam berilmu dan bijak menyikapi kebijakan yang ada. Bukan sekedar menerima sekedarnya.

Batu pancang itu kami tanam lagi dengan harapan mampu mencapai puncak daun cemara tertinggi, tak hanya di bumi Jawa, tapi di sudut manapun di dunia. Dan sastra kami adalah bekal, tak boleh tertinggal.

(Angin berhembus lembut di sela dedaun cemara di Semeru, “Gie tidak sendiri.”)

hikayat rokok

March 6th, 2008 by hanggoraras-berkisah

HIKAYAT ROKOK

“Peringatan Pemerintah : Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.”

Anda hafal dengan slogan peringatan ini bukan? Bagaimana tidak, tulisan ini terpampang jelas di kemasan rokok atau di bagian akhir penayangan iklan produk rokok. Memang tidak ada yang aneh dengan kata-kata itu. Dengan membaca himbauan tersebut, diharapkan bagi yang merokok segera menghentikan kebiasaan itu, yang belum ketagihan agar tidak sampai pada tahapan nyandu, dan yang belum pernah mencoba diharapkan tidak perlu menyentuh barang itu. Jelas, bahaya yang ada pada setiap linting rokok memang harus diwaspadai.
Di sisi lain rokok adalah prestise. “Sensasi yang lain!”, begitu lontaran yang sering saya dengar dari teman saya yang perokok berat. Kalau bagi saya, rokok lebih mengarah pada “Menciptakan asumsi yang lain.” Karena pada bagian akhir dari slogan itu menyatakan bahwa rokok bisa mengganggu kehamilan dan kesehatan janin, maka jelas, rokok bukanlah barang yang sifatnya maskulin lagi. Bila dihubungkan, maka terkadang rokok pun menjadi semacam identitas atau kebanggaan bagi kaum  hawa. Untuk hal identitas ini, saya punya catatan tersendiri.
Bukan sore yang ramah, mendung dan gerimis. Jalanan yang tidak begitu ramai, malah mendekati sepi. Untuk ukuran jalanan di kampung memang hal yang lumrah. Saya berhenti di sebuah warung bakso dekat rumah. Sesaat kemudian serombongan orang datang. Tiga orang wanita yang salah satunya masih usia belasan dan seorang lagi laki-laki paruh baya. Keempatnya entah membicarakan dan menertawakan apa. Tapi mata saya tiba-tiba saja tertuju pada salah seorang dari ketiga wanita yang mengeluarkan bungkusan rokok dari saku bajunya, menyulutnya, dan menikmati kepulan asapnya. Bagi saya pribadi memang tidak ada yang aneh dengan apa yang dilakukannya. Tapi di tempat saya tinggal (di kampung tepatnya), wanita merokok di tempat umum pastilah mengundang reaksi. Saya bereaksi. Untuk pemandangan yang tak lazim itulah, mata saya seolah mempunyai alasan untuk menatapnya.
Tak disengaja, mata kami beradu dan entah, spontan terucap dari mulutnya,”Ngapa, Mbak? Weruh wong ngrokok.”1 Untunglah saya tak sempat kagok. Saya sudah cukup siap menangkis apa yang akan dikatakan sebagai reaksi balik atas tatapan mata saya. “Menawi badhe ngrokok nggih monggo.”2 Jawab saya datar. Semacam penolakan halus atas sikapnya yang kasar.
Saya pernah berada dalam lingkungan wanita-wanita perokok, beberapa sahabat yang berjenis kelamin perempuan juga merokok dan itu tidak menjadi masalah. Saya menganggap mereka butuh melakukan itu. Bahkan salah seorang dosen wanita saya yang terkenal kalem dan anggun pun ternyata seorang perokok aktif. Tidak ada yang salah dengannya karena sikapnya juga santun dan bicaranya tidak kasar. Jadi mengapa harus tersinggung dengan pandangan orang kalau memang kita berani bertindak “eksentrik” dalam lingkungan sosial yang masih konvensional? Memang rokok bagi wanita seperti sinonim dengan perbuatan yang liar, penggoda, wanita tidak bener, wanita nakal dan banyak predikat buruk yang akan disandang. Tapi mendengar apa yang dikatakannya, layaklah kalau saya berpikiran demikian. “Aku ora wedi mati. Rokok yo ra gawe mati. Yen mati yo gek dipendhem wae. Bandha wis akeh, anak prawan loro siji wis payu. Sing siji kuliah mesthi wae gek kerjo. Yen mati yo gek dipendhem, tak tinggali bandha akeh.”3
Kata-kata itulah yang menjadi pikiran saya. Apa iya orang hidup hanya ingin mencapai itu? Harta yang banyak, anak perempuan yang sudah laku? Ah betapa klisenya. Mungkin saja anaknya akan bahagia dengan warisan harta yang berlimpah. Tapi daripada itu semua, saya jauh lebih memilih ditunggui ibu lebih lama. Saya lebih memilih ibu saya bebas dari penderitaan sakit karena rokok dan bisa bermain dengan cucu-cucunya. Lebih jauh lagi saya tidak ingin ibu saya menyandang asumsi, predikat, atau identitas sosial macam itu.
Merokok, bagaimanapun sangat berhubungan dengan kultur atau adat daerah tempat tinggal kita. Wanita merokok, dimanapun itu, harus punya kesadaran bahwa tindakannya akan menciptakan reaksi bagi orang lain. Minimal rasa heran atau kaget. Meskipun tidak perlu seperti itu karena nenek saya juga hobi nglinthing mbako 4 dan menghisapnya seharian. Entah mengapa orientasinya berbeda. Jangankan sekedar asumsi, rokok bisa jadi menimbulkan reaksi-reaksi yang aneh, maaf..pandangan yang aneh lebih tepatnya. Saya pun tak henti gelengkan kepala.

1  Kenapa, Mbak. Melihat orang merokok. (Bhs. Jawa)
2 Kalau mau merokok ya silakan
3 Aku tidak takut mati. Rokok tidak akan membuat orang mati. Kalau mati ya dikubur saja. Harta sudah banyak, anak gadisku dua, yang satu sudah laku yang satunya kuliah sebentar lagi pasti segera kerja. Kalau mati ya dikubur saja, aku warisi harta yang banyak.
4 Melinting tembakau

surat buat bapak..

March 6th, 2008 by hanggoraras-berkisah

SURAT BUAT BAPAK*

Nah, Bapak, kukirimkan kabar padamu. Di sini tak mati lampu kan? Pemerintah sudah menaikkan tarif Pak, jadi kami harus berhemat, atau terkadang dipaksa berhemat dengan pemadaman lampu masal. Tapi itu tak penting, yang penting Bapak bisa membaca suratku meskipun gelap.

Bismillahir Rahmannir Rahiiim..
Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamin
Ar Rahmaanir Rahiim
Maaliki yaumiddiin
Iyyaaka na ‘budu wa iyyaaka nasta’iin
Ihdinash shiraatal mustaqiim
Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim
Wa ladh dhaalin.
Amin.

Apa kabarmu Bapak? Apakah kau merasakan juga tanah retak dan berdenyut. Apa kau juga tahu kalau hampir seluruh daratan di belahan bumi ini tersapu banjir? Ah Bapak, aku lupa mengabarkan padamu. Aku pun tak menonton berita sesering dulu. Malas rasanya menonton televisi yang isinya hanya sinetron tidak mutu. Tidak ada wayang kulit atau ketoprak humor yang sering kita tonton bersama dulu. Aku rindu, Pak. Rindu tertawa bersama, menertawakan Timbul yang melakonkan Petruk dadi Ratu. Wah Pak, sekarang tak ada lagi acara itu. Kalaupun ada, tak selucu dulu. Dan ingatkah kau Bapak, kau tertawa hingga terkentut-kentut waktu itu..

Ya, lama aku tak menjengukmu Bapak. Jangan marah Pak, sekarang aku jarang di rumah. Memang akulah oknum di rumah ini yang paling sering tidak ada di rumah. Aku sekarang kuliah di Solo, Pak. Ya, di kota kelahiranmu.  Terakhir kali aku sendirian datang ke kamarmu dan mengadu soal “kemarahan” itu. Kau tahu Bapak, rasanya hatiku panas sekali. Sampai-sampai aku tak mau pulang, dan begitu saja membabat tanaman-tanaman berduri di sekitar kamarmu hingga berdarah tanganku.

(Rasanya sudah begitu lama surat-surat aduan itu tak kukirimkan padamu, aku jarang lagi menjengukmu dan merapikan tempat tidurmu. Maafkan aku Bapak.)

Bapak, seharian ini hujan turun lebat, bahkan disertai angin. Sepertinya ada yang tersisa dari hujan dan angin ribut tadi. Kerinduan. Kapan Bapak bercerita lagi tentang “Kancil Nyolong Timun”, atau “Pak Tani Mbeleh Kethek” ketika hujan berpetir datang? Pak, nanti aku juga akan bercerita kepada cucu-cucumu tentang binatang-binatang itu. Seperti Bapak dulu. Sekarang tak seorangpun mau menceritakannya padaku. Aku sedih Pak. Tapi aku sekarang terbiasa membacanya sendiri. Itu lebih baik. “Mandiri,” katamu.

Pak, bagaimana kabarmu? Bagaimana kamarmu yang sekarang? Apakah kasurnya selembut kasur di kamarmu dulu. Bagaimana dindingnya? Apakah tembok tebal dan berwarna hijau terang seperti tembok rumah kita? Bagaimana atapnya Bapak, dari genting berkualitas bukan? Selimutmu? Sehangat selimut kita tidak? Ayolah ceritakan padaku Bapak..

Kata Ibu, bulan ini kami semua akan mengunjungi Bapak. Mengirimkan kabar-kabar dan lelucon-lelucon segar seperti yang kita lakukan dulu.Biar Bapak tak sendirian lagi di kamar, dan biar Bapak tahu, kami tidak pernah melupakanmu. Kata Ibu, kamar Bapak akan diperbaiki. Ah bukan diperbaiki, tapi diperindah. Tenanglah, kami juga akan membuat taman kecil di dekatnya biar kamar Bapak selalu segar. Bapak suka bunga apa? Biasanya kalau kami berkunjung, kami selalu membawa mawar putih dan melati segar. Bapak suka kan? Aku ingat itu bunga kesukaanmu. Baiklah, mawar putih saja, seperti biasanya.

Pak, rambutan yang kau rawat di halaman belakang dulu, sekarang lebat buahnya. Manis lagi. Buah srikayanya  juga berbuah banyak. Sekarang kebun belakang rumah jadi penuh tanaman yang waktu kautinggalkan masih setinggi lutut anak kecil. Oh ya, jambu batu di taman depan rumah sekarang juga semakin banyak penggemarnya. Aku dan Ibu memang membiarkan setiap orang yang berkehendak makan untuk mengambilnya. Sesuka mereka. Seperti Bapak dulu.

Pak, aku sekarang tidak bekerja lagi. Semoga saja aku bisa lebih mengirit uang saku. Aku malu minta pada Ibu. Tabunganku juga sudah menipis. Tapi kurasa masih cukup, ya meskipun mepet. Aku hanya menulis artikel lepas saja sekarang. Jualan ini itu untuk menutup kebutuhan. Tapi hidup tak boleh berhenti karena perkara uang kan? Uang itu masalah kecil, ya kalau kita tak menganggapnya sesuatu yang besar. Itu kata-katamu. Ah, sudahlah. Rezeki toh sudah ada yang mengatur. Semoga saja aku dapat pekerjaan baru sebentar lagi. Doakan aku ya Pak.

Apalagi yang mau kau tahu Pak? Oh, menantu? Wah, aku belum bisa jawab Pak. Aku ingin perkenalkan padamu, tapi waktunya selalu sempit. Nantilah kalau ada waktu luang aku akan perkenalkan calon mantumu kepadamu. Tapi sepertinya aku masih harus sembunyi-sembunyi dengan Ibu. Aku malu, Pak. Sekarang, masih terlalu pagi rasanya. Biar Mbak dulu yang menikah, mungkin akhir tahun ini. Bapak juga harus mendampingi Mbak dan aku kalau kami menikah nanti. Biar Mas yang jadi wali nikah, tapi Bapak harus ada di sana. Janji ya?

Nah, Pak aku harus pulang dulu. Besok kukirimkan kabar-kabar terbaru untukmu. Sampaikan salamku untuk Tuhan, bilang padaNya, kami semua mengucapkan terimakasih karena Dia telah merawatmu dengan sangat baik. Sekarang Bapak tidur ya. Semoga saja kamar Bapak sekarang tidak bocor seperti rumah kita.

(Ya Allah, Rabb..lapangkanlah kubur Bapakku, hiasilah dengan cintaMu yang tak pernah habis, ampuni segala dosanya dan jauhkan ia dari siksa akhiratMu. Amin.)

Salam kangen
Nanda Nita—di dunia.

Surakarta, 4 Maret 2008
*Mengenang 383 hari meninggalnya Bapak.
Ya, kehilangan ini sepenuhnya milik saya dan keluarga. Saya pun tidak menuntut orang lain memaklumi itu. Saya menuliskannya bukan untuk membagi kesedihan. Hanya ingin dengan tulus menyampaikan kepada Almarhum (meski juga tak terbaca oleh beliau) bahwa kami selalu dan tak pernah berhenti mencintainya.
Kehilangan ini, adalah pukulan telak bagi kami sekeluarga. Kami seperti kehilangan tiang penopang. Tapi tiada lain, hanya kesyukuran atas segala nikmat yang telah kami terima, baik nikmat menangis maupun bahagia. Kami ikhlas, hanya saja terkadang memory otak memutarnya kembali tanpa izin dan mengganggu yang lain.
Penting bagi kami untuk menyediakan waktu, menatap kehilangan itu, dan membiarkannya berlalu bersama doa-doa kami yang tak putus.

Sang Penghibur

February 27th, 2008 by hanggoraras-berkisah

Catatan Sang Penghibur
: Perjalanan Kontemplasi                                     

Setiap perkataan yang menjatuhkan tak lagi kudengar dengan sungguh
Juga tutur kata yang mencela tak lagi kucerna dalam jiwa
Aku bukanlah seorang yang mengerti tentang kelihaian membaca hati
Kuhanya pemimpi kecil yang berangan
Tuk merubah nasibnya

Perjalanan sebuah kontemplasi mula dari sini. Kau tentu tahu, tak mudah mencapai dasar sebuah gua untuk bersetia pada perjalanan yang sekarang mulai terjal ini. Kontemplasi yang kumulai saat tiba dan pertama mengatur langkah di gua ini. Mengatur nafas hidup, menata pandangan jiwa, dan merangkai detak nadi. Menyumpal mulut dan telinga dengan sumbat yang entah terbuat dari apa, hingga aku tak akan bisa berkata dan mendengar apapun. Ya, aku akan melihat, mendengar, dan berbicara dengan hati nurani. Nalar, yang satu ini tetap kubiarkan berlarian, bahkan terbang jauh ke entah. Aku hanya ingin bermimpi, bahwa suatu saat aku akan menemui sebuah jalan yang terbentang, dan aku akan berlari sekencang mungkin. Sebuah jalan yang memetakan harapan dan mimpiku sendiri.

Oh, bukankah kupernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya

Lalu biarlah aku masyuk dengan redupku. Aku memang ingin seperti itu. Aku ingin merasai angin bercerita tentang dunia yang mengabur itu. Dunia yang di sana aku pernah melihat bintang yang begitu binar. Binar! Ya, terang sekali. Bukan kejora memang, bukan satu-satunya. Bintang yang menyala terang di hadapan, terang sekali!! Aku pernah sekali menyaksikannya di dunia itu. Tapi sekarang aku adalah pertapa yang lengang sudah dengan perkara bintang ataupun terang. Aku sudah harus bosan dengan kilau dan nyala yang silau itu. Tentang gelak tawa, sedih dan entah nestapa. Tentang tarian hidup macam itu.

Kugerakkan langkah kaki dimana cinta akan bertumbuh
Kulayangkan jauh mata memandang tuk melanjutkan mimpi yang terputus
Masih kucoba mengejar rinduku meski peluh membasahi tangan
Lelah penat tak menghalangiku
Menemukan bahagia

Aku berjalan terus dan terus. Aku tak cukup menghiraukan apa yang ada di sekitarku. Aku kukuh dengan jalan yang sekarang kutempuh. Dan di sepanjang lorong ini aku hanya akan berjalan dan memijak lantai gua yang dingin dan lembab itu. Aku akan mengakrabi lumut dan batu-batu dingin di permukaan gua ini. Bernyanyi dengan gemericik air yang mengalir di sungai yang mengalir lembut di kanan kiriku, bercanda dengan binatang-binatang seperti kalong, lintah, atau ular air yang menempel bagai lukisan di dinding gua. Aku ingin merasai lagi cinta di negeri yang sunyi ini, merasai datangnya cahaya. Bahkan dengan tangan kecilku ini, kupungut kisah demi kisah yang runut oleh semribit angin yang datang sembunyi-sembunyi menjengukku. Peluh menjadi sungai-sungai yang mengalir ke muara yang lapang sungguh. Hingga tiap meneguknya, aku jadi manusia baru yang lahir, lahir dari peraman rahim yang matang dan hangat. Ibunda, aku ingin lahir sebagai Bargawa yang membawa cinta, lahir sebagai ksatriya yang berhati brahmana. Aku ingin hadir sebagai mushashi yang hidup dengan janji, yang tak letih diuji. Seperti janjinya, “Berikan aku kelokan yang paling tajam, berikan aku jalan yang paling terjal, dan berikan aku angin yang paling ribut, biar aku bisa menjadi pengayun pedang terhebat dengan itu.” Itu janji seorang mushashi. Tapi ah sudahlah, aku hanya ingin lahir kembali dan meletakkan mimpiku di tempat yang seharusnya. Kulipat kakiku dan memejamkan mataku, merasai lagi puncak kelahiran yang akan kujemput.

Oh bukankah kubisa melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya

Bintang yang, yang bukannya tak bersinar, tapi ah, sinarnya lembut sekali. Ya, kuberanikan diri mencuplik sinar segi lima itu dari angkasa dan membawanya bersamaku. Langit tak akan gelap gulita kalau aku membawanya pergi. Dari lengkung mata gua ini, selepas jiwaku mengembara, aku akan duduk dan mulai memandangi sinar teduh ini. Kulekatkan mataku hingga aku bisa melihat dasarnya yang lapang dan jembar. Sebuah lapang yang menarik kaki dan tanganku untuk berlari dan menari di dalamnya.  Ya, aku bisa merasai bintang itu menari di hadapanku. Bintang yang berbeda yang pernah kulihat dulu. Gua sembab ini menjadi binar karena sinar yang berlomba berpantulan di dinding-dindingnya.

Bukankah hidup ada perhentian
Tak harus kencang terus berlari
Kuhelakan nafas panjang
Tuk siap berlari kembali
Melangkahkan kaki
Menuju cahaya

Kutarik nafas panjang, panjang sekali. Setiap inci sel terbuka dan paru-paru menjadi penuh udara, lalu aku mengaturnya. Kutahan nafas beberapa detik dan entah mengapa begitu hampa. Namun ada jernih yang menyeruak dari kedalaman hampa itu. Jernih. Sejenak pikiranku terbang ke angkasa. Aku mencari-cari kepingan raga yang barangkali jatuh di entah. Aku tahu bahwa sesekali, memang, hidup harus berhenti. Dan sekarang aku berhenti. Sesaat, menikmati kembaraning raga berkelana dan berjalan hingga menapak bintang. Sampai catatan ini penuh petuah hidup yang kurakit dengan tangan dan kakiku sendiri. Dan penuh, kata-kata ibu kurekam dalam hati dan pikiran:
“Bahwa hidup itu seperti bola yang harus terus menggelinding dan sesekali berhenti, Nak.”
Aku percaya ibu. Aku akan menemukan waktu untuk berlari lagi.

Dari catatan “Sang Penghibur-Padi”
http://langitarumhanggoraras.blogspot.com

Sebadai Jeiju

February 27th, 2008 by hanggoraras-berkisah

Sebadai Jeiju*
: kaki, hati dan kerabatnya

“….Sekarang matahari bisa saja lebih dekat dengan kita, tapi bisa saja, tanpa sepengetahuan kita, matahari terasa jauh sekali. Bahkan tak akan terasa hangatnya sedikitpun. Tapi percayalah, di beberapa musim, matahari akan mendekat dan melumerkan kebekuan kita. Sebadai musim yang bergolak, adalah juga sebuah catatan. Tentang bagaimana kita menunggu cahaya itu mengalun seperti lelagu yang lahir dari mulut kanak kita, semasa dahulu….”

Dari riuh musim kawin burung, kutinggalkan sebuah peradaban yang begitu akrab matahari itu. Sebuah peradaban yang menyimpan nyeri dan ketakutan yang begitu kukuh. Hati dan kaki membawaku menuju sebuah lembaran sejarah baru. Kulangkahkan kaki membawa serta keping-keping hati di sebuah pulau putih dengan lautan berbuih dan udara bersalju, Jeiju. Udara dingin berkabut, menyapa tiap jengkal tulang dan merayapi tiap inchi pori-pori, sepanjang waktu. Matahari enggan turun. Berselimut rapat membenamkan harapan tiap manusia akan berkas-berkas cahaya. Hawa es yang abadi di lelangkah dan tetapak kaki, menyisakan hamparan kisah yang bergitu juga beku, tak pernah sublim.

Aku tak begitu paham, mengapa matahari seperti sungkan berpijar. Kukenang katamu, “Matahari itu satu, di manapun kau akan mampu melihatnya.” Luluh kukenang perkataanmu yang begitu membumbungkan jiwa dan pikirku. Tapi aku belum melihatnya di Jeiju.

Mari, kuceritakan tentang pulau putih ini. Hamparan salju yang menjadi halaman dan tempat bermain bagi anak-anak kecil. Selain juga laut dan langit yang tak selalu cerah. Di Jeiju airnya asin. Terkadang aku harus berjalan naik ke pegunungan untuk menemukan air tawar, untuk minumku. Aku tak biasa minum air asin. Dan sepertinya, warga di sini banyak yang menderita sakit karena tak meminum air tawar. Dan kau tahu, obatnya pun diramu dengan air asin! Sungguh mahalnya air tawar di bumi Jeiju. Banyak dari kami yang mencairkan salju untuk kami minum. Sepertinya asyik, tapi begitulah, air tawar menjadi semacam harta yang lebih pantas dijaga dari nyawa, pikirku.

Sewaktu hujan, kami akan menampung airnya di sebuah kolam penampungan besar di kaki bukit. Beberapa orang malas menampungnya, karena kata mereka sama saja. Rasanya akan sama asinnya. Apakah begitu bergaramnya pulau ini? Pulau putih dengan beberapa pepohon yang tak begitu subur dan sesemak yang juga tak banyak.

Ketika pagi menyelinap masuk ke rumah, udara masih saja begitu beku. Saat tungku  menyala dan dengan malas kupanaskan air mandi, aku juga akan sangat repot membuka lembar demi lembar baju yang kukenakan sepanjang hari. Aku tak bisa menahan dingin. Pakaian yang kupakai bisa saja berlapis-lapis, juga selimut tebal dari bulu musang dan secarik kain untuk membungkus leherku.

~~~~~~~~~~~~

Sesungguhnya, aku akrab dengan dingin dan beku di masa kanakku. Tempat aku lahir dan lepas plasenta adalah sebuah dataran tinggi yang dingin dan bergunung di kanan kiri. Kau tahu, aku juga anak gunung yang suka bermain perang-perangan di kaki gunung. Di seberang rumah juga ada sungai kecil tempat aku dulu berenang dan berkecipak dengan riak air. Meski tak sebeku Jeiju, tapi tempat lahirku juga menyimpan dingin yang sama menusuknya. Namun matahari begitu dekat dari sini. Kala siang tiba, matahari seperti hendak memecahkan batok kepala. Aku pun selalu punya nyali keluar rumah di siang hari. Aku tak pernah takut matahari akan membakar kulitku, membuatnya legam seperti bokong panci ibuku.

~~~~~~~~~~~

Ah, Jeiju yang beku. Entah mengapa kaki dan hatiku mendarat di sana. Memang tak ada yang mengusirku dari dunia yang ribut itu. Tapi entahlah, aku seperti berhubungan dengan hawa panas yang memberontak di sekujur tubuhku. Segala yang mengalir seperti tiba-tiba ingin beku. Aku pun seperti tak punya kekuatan untuk mencegahnya, tiba-tiba pun meluluh dan begitu saja pergi menuju ujung dunia yang lain bernama Jeiju.

Jeiju yang mati. Sepertinya, semua orang malas hidup dengan air yang asin dan udara lembab bersalju. Hawa sakit tak henti mewabah di segala penjuru. Semua orang harus mampu menjadi tabib bagi dirinya sendiri. Pun aku. Hawa dingin, sekalipun aku kenal, tapi terkadang aku juga tetap gigil. Tulang-tulangku serasa ngilu dan sulit kugerakkan. Orang-orang semakin malas keluar rumah. Butiran salju juga sakit di mata, kalau jatuhnya seperti debu di gurun.

Jeiju yang berontak. Airmata tak akan banyak membantu. Hati dan tangan, sekali lagi yang bisa mengarahkan pelita ke Jeiju.  Lalu kubiasakan diri, berlari ke pegunungan mencari air tawar, menampung air di kolam kala hujan, dan sedikit berlari ke timur untuk sekedar berjemur. Aku akan sedikit berkeringat dan aku akan lebih banyak menapak agar tak begitu sepi.

Jeiju yang bernyanyi. Salju lembut yang mendarat di pipi merahku, membuatku bernyanyi di pagi hari. Membuat pemburu yang baru pulang dari hutan mengerlingkan mata mereka, ikut bernyanyi dan menertawakan kabut yang turun kesiangan. Mereka menghadiahiku mulberry merah yang cukup tua dari hutan, sedikit masam tapi akan sempurna untuk dibuat selai.

Jeiju yang bercerita. Ah sungguh kaki ini selalu tertantang untuk melangkah di pedalaman Jeiju. Aku senang sekali menginjak salju yang masih muda untuk membuat jejak-jejak seperti jejak beruang lapar yang mengaum dari kedalaman hutan. Aku suka sekali mencari mulberry muda untuk kubuat manisan dengan sedikit gula dan cuka manis. Aku akan suka berlari dan membuat bulatan bola dari salju dan kulemparkan begitu saja ke jendela. Tak akan ada yang marah padaku, karena aku hanya sendiri di rumah ini.

~~~~~~~~~~~~
Beberapa waktu yang lalu, aku datang ke pulau ini dengan sebuah kapal dari pelabuhan kota riuh. Aku memang sengaja tak membawa banyak barang dan perbekalan. Pun harapan dan keinginan. Aku sungguh tak tahu mengapa ombak Jeiju tak sebegitu ganas, tapi tetap saja membuatku mabuk laut. Beberapa burung berseliweran menghiasi langit dan sesekali mengeluarkan bunyi-bunyian yang tentu saja tak selalu merdu. Sesekali pun berisik.

Jarak  yang akan ditempuh adalah satu hari satu malam. Ombak yang begitu tenang menuju Jeiju. Aku larut dalam airmata yang entah darimana datangnya. Angin berhembus menyayat keheningan lamunanku. Dan entah mengapa Jeiju, sebuah tempat yang belum begitu kupahami, namun harus aku tinggali sendiri. Kaki dan hati ini sudah memilihnya, aku harus tinggal.

Aku berada di kapal bersama beberapa orang pedagang dan mereka yang ingin mengunjungi kerabatnya di Pulau Jeiju. “Kau hanya akan menemukan penjara,” kata seseorang. “Apa baiknya Jeiju untukmu, tak akan ada matahari di sana, aku pun hendak memindahkan ibuku yang sudah jompo dari sana, perkotaan akan lebih baik untuknya,” timpal yang lainnya. Ah tapi sudahlah, aku enggan berdebat dengan mereka. Bagiku, tujuan atau bukan yang pasti aku harus menetap di Jeiju. Entah pun ada kehidupan atau tidak di sana.

Matahari redup perlahan hilang dari pandangan. Malam bergulir seperti mengeluarkan ilmu sirep yang mencipta hawa kantuk luar biasa. Dan heran, aku tak kuasa memejamkan mata. Kapal terbuka dan layar yang kebat-kebit membuatku tak juga bisa duduk tenang. Di ujung kapal ada sebuah lentera kecil yang sudah tak nyala. Sekeliling kami sudah gelap. Tak ada cahaya tersisa. Aku bersandar pada sebuah tiang besar, menghadap laut, menuju Jeiju.

Angin berderak kencang, layar seperti tak kuat menahannya. Sejurus, sebuah komando menuntun kami memasuki sebuah ruangan kecil di dalam kapal. “Ada badai!” sebuah teriakan lantang membuyarkan lamunanku. Dan benar, angin meribut, layar berkelojot tak tentu arah. Kami kebingungan.

Perjalanan pertama yang kutempuh menuju Jeiju adalah perjuangan berat menaklukkan badai pasang. Berkali-kali tiang pancang berguncang seperti hendak jatuh. Angin semakin meribut dan menggoyang-goyang keyakinan kami. Mendung yang semula tak tampak berlarian di atas kepala kami. Gelombang yang kian melampaui tinggi tiang perahu menghantar kami pada kegelisahan yang tak berpintu keluar.

Perlahan udara mulai buyar. Pagi tampak, meskipun tak terlalu terang. Mungkin seperempat perjalanan lagi kami semua sampai di Jeiju. Kami tergeletak kepayahan dengan luka di masing-masing badan. Bau air laut seperti menyiramkan berliter bibit minyak ikan ke arah kami. Anyir. Beberapa hewan kecil terperangkap di kapal, memberi gambaran betapa keras ombak mengombang-ambingkan mereka dan kami, semalaman.

Ketika matahari sedikit menghangat, kami sampai di pelabuhan Jeiju. Kaki terasa berat dilangkahkan di barisan bukit yang putih dan beku. Perbekalan menipis, hanya tinggal sepotong roti tanpa keju dan sebotol kecil air tawar di tangan. Tapi rupanya, Jeiju juga surga. Banyak buah-buah hutan kecil yang juga enak dimakan. Sampai kemudian siang hari aku mulai mencari tempat tinggal.

Banyak rumah kosong yang begitu saja ditinggalkan penghuninya. Beberapa tetua berkata,”Mereka tak akan kembali, Jeiju adalah serpihan neraka bagi mereka yang sudah keenakan mengecap nikmat di pulau lain di seberang.” Leherku bergidik, aku tak tahu bumi seperti apa yang akan aku jelajahi ini. Tapi memang akan lebih baik bagiku untuk segera memulai penjelajahanku di tempat ini. Tempat yang dicap sebagai cuilan neraka ini.

~~~~~~~~~~~~~
Rumah kecil ini memang hanya untuk satu keluarga dengan satu orang anak, tapi bagiku ini sangat luas. Sedikit demi sedikit kukumpulkan tenaga untuk membuka kantong perbekalanku yang sudah kempes. Beberapa bajuku masih basah karena badai semalam.

Kurapikan rumah yang tak terlalu kotor ini. aku hanya memerlukan satu meja untukku selalu mencatat dan belajar. Di belakang rumah, ada kebun tanaman obat yang tak luas. Ada juga parit kecil yang dihuni kawanan katak gendut yang sibuk bernyanyi dan melompat-lompat. Mereka tak kedinginan.

Ketika sore tiba aku selalu sempatkan untuk berjalan-jalan mengitari bukit dan perumahan yang masih berpenghuni. Sekedar menyapa dan berkenalan. Di tempat ini banyak tumbuh sesemak yang ternyata tanaman obat. Rumput astragalus dan kumis kucing ternyata bisa tumbuh di sini. Keduanya baik untuk kesehatan.
~~~~~~~~~~~
Waktu bagiku untuk mempersiapkan makan malam. Ada beras merah juga pasta kacang yang belum matang. Aku akan ke pegunungan, mencari sumber air agar aku lebih enak makan. Dan sudahlah, tak perlu kau terlalu mengkhawatirkan aku. Aku masih baik-baik saja. Di sini banyak ikan dan tanaman buah. Aku pasti bertahan. Kau tak usahlah menyusulku.

Kau sudah hafal, ini adalah perjalananku yang kesekian. Dan kalau sekarang kaki dan hatiku mendarat di Jeiju, apakah kau juga akan sama sabarnya menanti aku pulang? Suratmu masih kubawa, dan aku juga akan setia menceritakan segala yang aku lihat dan catat tempat di bumi mana aku singgah. Hati, kaki dan kerabatnya akan mengikuti kemanapun arah nasib kita. Maka jadilah nahkoda yang kuat dan perkasa.

Sebadai apapun lautan yang aku seberangi, aku akan tetap berpegang pada kata-katamu, “Matahari itu satu.” Dan di Jeiju, meski belum tampak, matahari itu ada. Anggap saja dia sedang main petak umpet denganku. Akan kucari dia sampai ketemu. Aku berjanji.

~~~~~~~~~~

*Menurut serial Jewel in the Palace, Jeiju adalah sebuah pulau jauh dan terpencil di Korea. Di pulau ini,pada masa lalu, kerajaan membuang tahanan yang dijadikan budak atas kesalahan mereka kepada negara.

Langitarum Hanggoraras, 20 Agustus 2007

nyala

December 10th, 2007 by hanggoraras-berkisah

NYALA

: kepada penjumpa pengelana

 

“Sebuah nyala memang tak selamanya membakar apa
yang ada di sekitarnya..”

 

Lagi, sebagai pengelana aku datang pada titian
musim yang lain. Sesekali bolehlah dikata ia lembut bagai terjemahan mentega
yang meleleh di hamparan roti bawang yang wangi. Tapi yang kutemui kali ini
adalah musim kering yang gersang. Sebuah gersang yang hampar di kedua kakiku.
Mengeringkan akal dan mimpi-mimpiku. Tak penting memang, hanya mimpi kecil
seorang pengelana.

 

Kau, kutuliskan di sini sebagai seorang
pencatat. Semacam Ki Pancaksara atau Prapanca yang menuliskan lelembar kisah
dari pejalan yang ditemuinya, entah di bumi sebelah mana. Kau juga yang
akhirnya menuliskan tentang nyala, nyala mataku. Nyala mata seorang pengelana. Kau
yang juga sering bertemu, dan sangat menghikmati pertemuan demi pertemuanmu
dengan pengelana-pengelana dari semua ujung dunia. Tak satupun dari mereka
tercecer dari catatmu. Larik demi larik yang kautuliskan dengan nafas
pemburumu. Ya, kau seperti pemburu yang tak pernah lengah membidik mangsa
dengan bedil tuamu. Dan saat ini, akulah yang menjadi sasaranmu.

 

Lalu entah bagaimana mulanya, cerita demi cerita
kulepas seperti seorang ksatria yang gagah melepas anak panahnya. Lepas, hampar
begitu saja. Dan entah mengapa juga kubiarkan kau menghayati kisah yang
kusampaikan dengan begitu syahdu. Kita berhadapan. Mata kita beradu. Bedilmu
mengarah jantungku. “Aku mendengar detak jantungmu,” katamu perlahan. “Aku
mendengarnya berderap, dan itu yang akan kucatat,” katamu lagi. Kau terus saja
berkata, menghentak-hentak jantung. Aku ingin sekali tak mempedulikannya, tapi
entah, mataku tiba-tiba memancarkan nyala yang panas dan galau. Aku jengah.

 

Kau sepertinya orang pertama yang meyakini bahwa
aku baik-baik saja. Padahal kau tahu pergelangan kakiku ini sudah mati rasa,
tumitnya pecah menjadi tak rupa lagi. Kuku-kukunya menghitam dan tak indah
lagi. Kakiku menghadapi sebuah hamparan padang luas dan tak menyimpan
sedikitpun teduh. “Ini tanah gersang,” memelas kukabarkan padamu tentang sebuah
kegelisahan. Daun-daun meranggas sebelum cukup tua. Angin dan pepohon tak lagi
bersahabat, tak lagi berjabat. “Ini sungguh gersang.” Dan kau masih saja tak
percaya. Kau menganggapku mengada-ada.

 

Sungguh betapa aku bergumul dan bercanda dengan
batu. Bebatu yang tak menyimpan gerak. Kau mengenalnya sebagai kota tua yang
dimana setiap orang bisa singgah kapan saja dan hidup dengan merdeka. Tapi ini
kegersangan yang nyata. Kugambarkan setiap sudutnya sebagai jejak-jejak tanpa
pertanda, sebagaimana sisa-sisa prasejarah dengan lembut menjarah kekinian.
Sungguh tuan, kukatakan padamu, “Tanah ini sungguh gersang.”

 

Kau menatap hamparan lanskapnya yang pasir dan
desir. Mataku yang selalu berair, dada yang sesak dan gemuruh otak yang selalu
ingin meledak. “Aku ingin muntah.” Ya, aku ingin muntah begitu saja, muntah
yang sebanyak-banyaknya. Selega-leganya.

 

“Matamu membakar apa saja di sekelilingmu.” Kau,
sekali lagi bergumam. Kau membuatku semakin bingung. Apa yang kubakar. Nyala
ini, kalaupun ada, hanya seperti nyala lampu teplok, kecil saja, tak mungkin
membakar apa yang ada. Bagaimana membakar, membawanya saja aku masih sangat
kedinginan. Apa maksudmu menuduhku seperti itu kawan?

 

“Bumi yang kauinjak gersang, dan kau membakarnya
dengan matamu yang menyala-nyala itu.” Kau berkata lagi sesuatu yang sulit
kupahami. Pelan kujawab, “Hanya nyala ini yang kupunya sekarang,” dengan
airmata yang tiba-tiba buncah,”Apakah itu mengganggumu, kalau ya, aku akan
berlatih meredupkannya.”

 

“Kaulah pengelana, yang membawa malam sebagai
ibumu dan geliat angin sebagai bapak yang melindungi langkahmu. Kau juga
pengelana yang setia dengan cinta dan kelembutan embun. Kau yang melukis
pelangi dengan citamu. Tak perlu kaupaksakan dirimu seperti itu. Biarlah nyala
matamu seperti adanya, juga geliat jiwamu. Jaga dan tegakkan ia sebagaimana
hujan membangkitkan bebiji. Juga dirimu, hadirkan ia sebagaimana citakan. Tak
perlu kaupedulikan aku, aku juga seorang pengelana malam. Aku hanya tak ingin
kau terbakar nyalamu sendiri.”

 

Kata-katamu bagai ribuan pisau yang menghunjam
jantung dan menyayat urat-uratku. Perih. Lalu kau berlalu begitu saja mungkin
ke entah yang begitu jauh, meninggalkan secarik kertas lusuh yang sedari dulu
kaubawa kemana-mana. Kubaca perlahan, aku mendengar detak jantungmu, dan
kutulis dalam catatanku..

 

Tiba-tiba sebagian diriku hilang terbawa angin.
Moksa.

 

 

Langitarum Hanggoraras,

Surakarta, 5 Desember 2007

PETIKAN SIEM 2007

September 16th, 2007 by hanggoraras-berkisah

<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

FOLKCORN:
KLASIKA NEGERI KINCIR

Murnita DK*

Jangan
remehkan manula. Setidaknya, pemusik-pemusik sepuh dari Belanda ini
bisa dijadikan gambaran. Grup musik folklor (musik klasik Belanda),
Folkcorn, didirikan sejak 1972. Formasi yang eksis saat ini pun sudah
ada sejak 1980. Terbayang betapa kuatnya konsistensi mereka
memperkenalkan musik klasik Belanda ke seluruh dunia.

Pemain
akordionnya, Anneke Rot adalah yang termuda. Wanita Belanda ini lahir
dan sempat mencicipi kehidupan di pulau Jawa di daerah Purbolinggo.
Selain Anneke, komposisi Folkcorn terdiri dari pasangan Marja van der
Zee pada kendang-Jitze Kopinga (instrumen berdawai), dan saudara
laki-laki Marja, Laurens van der Zee pada suling dan bass.

Instrumen
tradisional menjadi pilihan bermusik mereka. Alat musik yang asing di
telinga kita, seperti alat musik petik dulcimer, suling besar
“bigpipe” dan chalumeau, gitar folklor, akordion, dan kazoo.
Folklor sejatinya adalah tarian dan nyanyian yang bercerita tentang
pesta, dansa, ksatirya, makanan, minuman dan cinta. Repertoar yang
mereka sajikan adalah musik folklor dari era 1400-1900 yang terdiri
dari lagu-lagu, balada dan madrigal yang dinyanyikan secara acapela.
Menariknya, lagu-lagu klasik ini dimainkan dalam konsep yang sedekat
mungkin dengan versi aslinya, meskipun ada juga beberapa yang
diaransir secara moderen.

Dalam
pertunjukan mereka di malam terakhir SIEM, mereka membawakan 4 buah
lagu. Ada lagu yang mengisahkan tentang nelayan yang tenggelam di
laut, juga kisah istri yang sedang marah. Pada sebuah lagu, Folkcorn
tampil atraktif dengan mengajak penonton ikut bernyanyi dalam bahasa
Belanda. Alhasil, irama tepukan tangan penonton semakin menghangatkan
suasana. Suasana semakin syahdu, ketika Laurens memainkan seruling
besar “bigpipe”. Hubungan baik ini seakan menghapus stigma
“penjajah Belanda” menjadi “kawan bermusik” yang menyenangkan
bagi Indonesia. 

*penulis adalah wartawan majalah Pena Pendidikan dan artikel ini dimuat dalam Majalah Pena Pendidikan edisi 16 (September 2007) dalam rubrik Seni Budaya

July 19th, 2007 by hanggoraras-berkisah

Lagu padang

Sebuah lentera tibatiba padam. “Aku tak sedang menyalakan angin,” katamu. Namun bisik itu tak bisa berbohong, kau memang sedang bercanda dengan musim angin yang kau hempaskan perlahan ke lentera kita. Kalau memadam, bukan kuasa kita.

Redup sudah, bila tak ada cerita kemudian. Teringat betapa jiwa kita bersua di sebuah belantara padang. Sesaat terbawa, kala kita berlarian di padang yang teramat luas dan sesak oleh ilalang. Kau rautkan jiwa kita sebagai sebuah cermin yang retak di pinggirnya. Matahari adalah penjaga yang tak pernah letih hingga senja datang dan memaksa kita berhenti. Tapi keesokan harinya, kita bergumul lagi di padang, kita memang anak-anak padang. Yang bergelut dan berdarah di padang. Yang bermain dan beriring dengan ilalang di sekujur padang. Kita yang mengakrabi bebatu dan pepohon. Kita yang nyinyir ketika angin menggoda dan menghempaskan tiupan nakalnya ke telinga kita. Tapi kita anak-anak padang, yang tahu betul bagaimana menata langkah di sebuah padang, sebuah belantara.

Kita akrab dengan lelagu musim panas yang meretakkan gendang telinga setiap orang. Teriakan-teriakan khas anak padang yang bengal dan bertautan di sebuah ruang, kita sungguh mengenalnya. Di lembar-lembar musim kita tuangkan berlembar cerita tentang rumputrumput segar dan buah-buah angin yang jatuh di semaksemak. Kita paham, bagaimana burungburung berkicau parau, bagaimana embun menetes kasar, bagaimana langit melukis kesetiaan, kita sungguh paham.

Tapi sejurus, kita langkahkan arah ke lain benua, benua yang tak menyimpan padang seperti padang yang kita punya. Kaki membawa kita menjauhi padang dan belukar yang tak lagi kau rindukan. Ingatan telah melapuk dalam tiap jengkal perkara yang pernah kita tengkarkan. Kau tak lagi bernyanyi dan aku pun tak lagi ingin mendengarkanmu menyanyi. Kita sama-sama letih, lelah menunggu keasingan.

Padang yang telah kita asingkan sudah tak lagi merapat dengan badan. Kini telah gempa, telah retak ranahnya. Beberapa belukar terbakar karena musim yang memanas. Dan angin tak lagi nyaman berhembus. Mengobrak-abrik kelambu musim di tengah ceracau burung yang kian parau. Tak bisakah sejenak saja kau jenguk peraduan kita? Menyalakan lagi lentera yang padam karena angin yang gusar.   

Lentera telah padam. Angin meribut di belakang rumah kita. Pohonan beku dan embun yang menyeringai. Kita kelu, menatap padang yang tak lagi melagu rindu. Belukar tak menari lagi. Kau tak menatap lagi. Tak ada lagi nyanyi padang yang membirukan temaram langit. Sungguh satu yang ingin kutanyakan, “Kita menanti apa?”

July 19, 2007

(LH, Menyelami detik-detik berkutat di padang)

SEPERTI MATAMU YANG KETAKUTAN BERTATAP DENGAN MATAKU

July 2nd, 2007 by hanggoraras-berkisah

seperti matamu yang ketakutan bertatap dengan mataku

: c.k

Kita hampar, pada sebuah ungkapan lama

Bahwa cinta memang tiba tepat pada waktunya.

Tapi kita kabut,

Ketika mata bertemu dan galau meracaunya.

Kita humus, ketika lautan cinta menengadah indah

Memeluk pagi dan malam kita dalam rindu yang utuh

Kita salju, ketika diammu menjadi api yang kukuh menelanku

Lalu, adakah kita badai

Ketika hanya riak kecil mampir dalam gulita kita?

Malam diam di sudut kota itu. Sekelebat badai mengetuk pintu kita.

Memang, ada sedikit canda tawa yang begitu ikhlas melepas kerinduan kita yang jamak. Mata yang tak habis bertatap, pun tangan kita yang berkait. Namun entah, matamu begitu katup, bunting (sepertinya) oleh kepedihan dan ketakutan yang sekali waktu datang, lalu di sekali waktu yang lain pergi entah kemana. Semacam duka yang begitu saja meluap, tiba-tiba.

Dan aku tahu, aku yang membuatmu begitu. Membuatmu kejang dalam risau dan beban yang begitu dalam. Aku yang membuatmu lagi akrab dengan sendirimu yang begitu saja mengasingkanku dalam hingar kita, beberapa waktu silam. Tapi tak kau tahu, bahwa kepedihan dan kekalutan kita seragam. Seperti benih-benih padi yang ditebar menghampar. Juga seperti segrombolan burung yang lepas terbang beriringan. Ketakutan kita pun serupa.

Entah pergumulan seperti apa yang tengah kau jalani, tapi aku risau. Aku risau dengan jawaban, aku kalut dengan ribuan pertanyaan, aku galau dengan diammu. Dan hendakkah kita berhenti? Memang belum setapak betul, kaki kita melangkah. Ketika waktu kemudian bersandar pada kisah kita. Berjalan dan bersidekap dengan satu demi satu keasingan yang mau  tak mau harus menemui penyesuaian. Kausebut aku perempuanmu, dan kau lelakiku. Kuhamparkan kisah kita pada bait-bait puisi dan berlembar doa yang khusuk dan lusuh..

Sedang angin sepertinya enggan lagi bergulir..ketika kau jabat tangan ini erat. Bukan tak inginku, tapi ini hanya bagian dari galau yang melarut dalam jeda kita. Ya, kau begitu ingin menangis. Kau begitu sedu dan aku tak tahu harus bicara apa. Pikiran-pikiran jahat berseliweran. Mungkin inilah awal yang sekaligus akhir. Dimana bercak-bercak mimpi tiba-tiba harus punah dan berdebu. Awal yang serba samar dan akhirnya sampai pada dunia sembab yang siang malam menteror kita.

Tapi aku tak akan pernah siap..

Sejenak, kita tiarap dalam beku. Mata kita lelah sudah menatap hampar pelataran rindu yang membatu itu. Sekarang, bukan lagi cemburu yang kita tuliskan, tapi tentang benteng yang akan kita bangun, tentunya bukan berpondasi keraguan.

(Sayang, kaucuplikkan rembulan, meski tak selalu utuh, di tiap malamku..)

Dan kulihat badai, seperti matamu yang ketakutan bertatap dengan mataku.

(LH–Yk, 20 Juni 2007)

pengantin bisu

April 24th, 2007 by hanggoraras-berkisah

PENGANTIN BISU

Bisa kita baca sayu yang merimbun di pohonan rindu ini

Menghitungnya

Lalu tiba-tiba seperti kuda yang tak tahu lagi caranya berlari

Wajah yang begitu dekat dan tak teraba

Badan yang begitu rapat namun tak bisa dibaca

Sebuah pelukan hambar

Ciuman-ciuman yang meliar

Dan geliat semu di ranjang..

Kontemplasi Istiqlal, 210407/15.34 WIB