Haruskah kucukupkan perjalananku mencarimu? Meninggalkan suara- suaramu, raungan- raungan lirihmu, gelak tawamu, nyinyir cibirmu dan ketidakjelasan yang kaulahirkan. Haruskah? Yang kutahu, baru kali ini ada seorang lelaki berani membuatku bingung. Aku mencarimu. Lewat kabel internet, pesawat telepon, dering sms, sampai pelabuhan mimpi yang melankolis, entah mengapa aku sungguh takut kehilangan bayangmu. Bukan sekedar bayangan memang, kedatangan dan kepergianmu bahkan tak meninggalkan bebauan, kedatangan dan kepergianmu hanyalah pertautan bingung dan bimbang. Juga benang merah keraguan, kegelisahan, dan ketidakterjangkauan.
Datang dan pergimu menjelaskan jarak. Entah jarak apa seperti ini, yang membikin lelah hati dan pikiran. Jarak yang aneh, tak bisa dijangkau mata, apalagi perjalanan. Sesuatu yang jauh dan terhalang badai dan ribuan topan.
Aneh. Mengapa aku yang mencarimu, mengapa kamu tak mau datang dengan segala yang ada padamu? Mengapa harus aku yang menunggu, mengapa harus aku yang dengan senang hati kerepotan menangisimu? Sekali lagi, seperti biasanya, kamu tak datang.
Kukatakan padamu, baru kali ini aku dibuat bingung. Aku sungguh mau mengulur jarak dan waktu hanya untuk menemuimu sekali saja. Asal kau tahu, tak mudah merenangi samudera kebingungan tanpa kompas dan pelampung. Aku bisa mati tenggelam karena kelelahan. Tapi apa kau mau tahu? Atau justru pura- pura tak tahu?
Sementara, di duniamu, kau bersenang- senang dengan wanita yang kausebut pacar itu. Uh..betapa sakit hatinya aku…tapi tetap saja aku mencarimu, untuk sebuah alasan yang tak akan terungkap hanya dengan menatap, yang tak akan tampak hanya dengan menebak!
Tak ada peta ataupun kompas. Yang pasti aku harus tetap mencarimu meski tanpa petunjuk. Kompas dan petaku adalah keyakinan, aku akan menemukanmu.
Kucatat tapal batas tempat pertama kau melangkah ke rimba kota yang jahanam itu, kucermati tiap kata dan bait- bait puisimu, mencoba menerawang pikiranmu, kubaca tiap jejak jalan yang kaulalui. Aku semacam arkeolog saja, tapi tetap saja yang kutemui bukanlah engkau, hanya sebuah luka lama, sebagaimana fosil yang berdebu, tak meninggalkan apapun. Aku lelah..
Kubuka lagi catatan lamaku. Mengapa aku mau sebegitu repot mencarimu? Membuat kisah yang tak tahu sampai di mana ujungnya. Kisahmu adalah rangkaian sisa- sisa kekuatanku yang terkumpul dengan doa yang luarbiasa. Kisahmu hanya tibatiba menjadi sebuah catatan…catatan yang meratap dan bersedih..menatap dan berkisah.
Tuhan, aku bersimpuh
Aku mempercayai lelaki itu, memberinya rindu yang terbaik yang lama terpasung dalam jiwa. Memberinya sebuah inti, bahwa aku sungguh menyayanginya, dengan hati, dan tidak dengan mata.
Seperti sel, tibatiba berdekat, namun tetap saja tak bisa melekat. Ada sesuatu di antara kami. Sebuah jeda yang selalu membuat kami terjaga selepas subuh, atau terbangun kala petang sudah enggan. Kabut..
Seperti sebuah kerinduan yang berjarak waktu, bukan inchi.
Jauh…sekali.
Padahal aku hanya ingin bertemu dengannya sekali saja, meresapi bau tubuhnya yang memasam karena hujan. Atau mencium lembut bibirnya yang menghitam karena tembakau terbakar. Lalu berbisik mesra di telinganya dengan kekhusukan doa perawan, “Aku sungguh menginginkanmu..”
Sedikit saja..sedikit saja..sebelum keberadaanmu hilang ditelan takdir bersama perempuan lain…tapi segalanya terlalu berat untuk diperjuangkan..Musnah harapan..ditelan gelombang..
Mimpi adalah kabut yang tak pernah mau menyingkir dari harapan manusia..Kehilangan adalah ketakutan yang tabah dan elok. Tapi kehilanganmu adalah mata yang haus akan ribuan jawaban. Aku hanya ingin memandangmu dari ketulusan nuraniku. Menciummu dengan kemurnian inginku. Dan menyimpanmu dengan keluguan yang paling bodoh.. Mari berpeluk dalam sukacita, cintaku. Dalam beribu predikat yang kita sandang sampai tahun jadi berdebu. Aku sungguh mencintaimu dengan segala kebusukan dan keindahanmu.
Aku merindukanmu……
Berapa harga sayap..
Agar aku bisa menjangkau hatimu di sana?
Cepatlah pulang, kembali ke khayalanku..
Bersama kabut.
Oh dunia..berapa jarak yang tercipta dengan kebingungan dan kebimbangan seperti ini? Jalan yang kutempuh adalah jelmaan kabut yang kejam dan lembab. Membuat setiap orang yang melewatinya menemui haus yang tak terhapus oleh air dari gunung manapun. Atau seperti dari awal aku yang tak cukup siap? Hanya memendam cinta yang terburu dan nekad? Atau melengkapkan pikiran yang lengah karena ingin memburu kesejatian? Aku, aku mencintai kabut ini.
Dengarlah. Aku akan tetap memberikan rindu yang sama kuatnya, entah akan menjelma sebagai apa engkau nanti, kekasih. Sebagai kabut, sebagai hujan, sebagai mendung, atau barangkali kau ingin menjelma sungai, gurun pasir, atau ladang jagung? Kalau kau dengar aku, jawablah kekasih..sekali saja. Agar lengkap kelelahan ini.
Lihatlah. Sebagaimana awal yang pernah kubicarakan denganmu, kisah ini tak pernah main- main, rindu ini bukanlah kamuflase, dan cinta ini tak pernah terlahir karena kebohongan. Percayai aku, sebagaimana malam mempercayakan cahayanya pada bulan.
Aku begitu, tahukah kamu? Aku tak peduli siapa yang ada di sampingmu kini. Aku mengejarmu hanya karena aku menginginkanmu, hanya karena kau membiarkanku jadi seperti ini. Rasa sakit ini membuatku kuat untuk belajar terbang meski dengan meminjam sayap siapa. Aku tak peduli, meski kesakitan seperti apa yang kau berikan. Karena kau pasti akan merasakan sakitnya juga. Aku rela menjadi bodoh, karena kebodohan ini akan juga segera menjadi milikmu.
Juga ketika kau memutuskan untuk menjadi kabut. Aku bisa mencintaimu dengan segenap kekejaman dan kelembabanmu. Kalau begitu, biarkan aku menyapamu sebagai kabut, kalau aku bisa jadi embun pagi yang bersetia padamu. Atau biarkan aku bergelut denganmu sebagai asap, asal bisa aku menjangkau api yang menyulutmu. Cinta sebagaimana perumpamaan musim, sebagaimana percintaan bulbul. Semua melahirkan kisah.
Kamu datang begitu saja. Seperti kabut di pagi hari yang meresapkan dingin, seperti hujan yang meninggalkan jejakjejak lubang di tanah, seperti pemburu yang menurunkan sisa pelurunya di hutan. Kamu, lelaki yang berani membuat aku sebegini bingung..
Kalau begitu begini saja, seperti apa kau ingin mencintaiku, bagaimana kau ingin menyayangiku?
Turunlah sebagaimana kabut yang sombong itu..kalau dengan itu bisa mendekatkan duniamu padaku. Turunlah sebagaimana kabut yang pongah itu, lalu kau bisa melihatku terengah- engah dalam pelarian yang berputar- putar.
Ikutlah berlari bersamaku, kau akan mengerti, mengapa aku sangat menyukai perjalanan seperti ini, perjalanan yang tak biasa, mencari kepingan hati yang datang dan pergi tanpa suara…..
Apakah hanya ketidaktahuan ini yang membuatku kuat berlari? Ah tidak, rasanya perlu banyak tahun untuk membuat langkah ini begitu nyata dan meyakinkan. Apakah hanya karena hati yang penasaran aku mampu menyelesaikan perjalanan? Mungkin juga tidak, karena cinta butuh kekuatan. Apalagi menyelesaikan jarak yang tak kasat mata..
Kamu, lelaki yang berani membuatku begitu bingung. Lelaki yang hampir membuatku putus asa, seperti berlari di pepasir yang tak teduh.
Anjing! Aku betul merasa lelah kali ini. Ehm, begini saja. Aku akan berhenti sejenak, agar tak terlalu lelah.
Lalu apa? Jarak ini semakin tak terjangkau. Istirahat membuat hatiku terpasung di tapal batas pencarianku. Dan doa- doa rasanya tak mampu lagi menjadi satu keluarbiasaan bagiku. Kaki ini tak sanggup lagi berlari. 1 sentimeter sebagaimana 10.000 kilometer. Dan kabut itu, kabut itu tak mau pergi dari hadapku, sama sepertimu yang selalu membuang muka pada perjuanganku.
Lihatlah! Hujan turun perlahan, dan aku akan sangat senang mendapatimu sekarat di tengah badai kebingungan! Seperti aku saat ini. Aku lelah! Aku berhenti! Akhir pencarian.