Archive for October, 2006

JIKA SAMPAI MATI AKU TAK BISA MENEMUKANMU

Friday, October 27th, 2006

hitunglah jarak

ulur detak waktu

kalau kau tahu aku tak pernah sedetikpun berhenti mencarimu

tanyakan pada hujan

katakan pada mendung

sapalah titik-titik embun

dan yakinkan rerumputan

bahwa tak pernah sedetikpun aku berhenti mencarimu

tapi sedetikpun kita juga tak pernah bertemu

selama waktu

sejauh perjalanan

sedetikpun aku belum pernah menemukanmu

kubuka lipatan- lipatan waktu

dengan jarum- jarum kesabaran

mengunci keberadaanmu dengan doa

dan melingkarkan suara- suaramu pada tabung hati yang bergetar

jika sampai mati aku tak menemukanmu

rawatlah dentang jam yang berdetak sekarat ini

seusai waktu

ia masih akan berdentang duabelas kali

jika sampai mati aku tak menemukanmu

lipatlah lagi, rapikan lagi jalinan waktu

yang pernah diobrak- abrik kenangan

dan ditangisi doa- doa

tataplah wajah kabut yang turun dalam kesahajaan

disana mungkin kita bisa saling menyapa

meski sedetik saja.

*penggalan lirik lagu "Radio" Sheila on 7

oktober 2006_tibatiba aku ingin sekali bertemu seseorang..

LELAKI YANG MENARI

Wednesday, October 18th, 2006

tadi malam, aku melihatmu menari dalam mimpiku

Sempurna, sesempurna tarian Durga.

kakimu bergerincing, membawa gegelang riuh yang sesekali senyap dalam malam

mukamu memucat dalam takut yang indah

seketika terbaca letih dari tiap kepal nyanyian yang termaktub dalam tetes usiamu, juga gemerincing gelang kakimu

Begitu sarat, penuh, berpeluh, riak mengaduh

Juga lembar- lembar pengakuan yang tidak menemukan penyesalan

Kalau begitu letihmu, mengapa kau memaksa terus menari?

memaksa gelang kaki terus bergerincing meski kau tahu luka tak jadi kering

lihatlah, dengarlah

meski letihmu bukanlah cerita yang indah

dan wajahmu yang pucat tak bisa lagi dicap sebagai isyarat,

dengarlah hujan yang mengalir turun

lihatlah gesekan daun yang berlindung

seperti berkata,

tiap kaki punya kekuatannya sendiri

tiap tangan punya kelincahannya sendiri dan

tiap gelang punya gerincing sendiri

lihatlah betapa

kau harus sudahi hukumanmu

saat kau terkapar dan tak tersedia tandu

kau harus lepaskan itu….

PENA HIDUP

Wednesday, October 11th, 2006

Sudah pernah saya ungkapkan, betapa saya sangat mencintai diri saya sendiri. Segala keinginan, dendam yang membatu, kepasrahan yang sangat pasrah, keikhlasan yang kadang tidak terlalu ikhlas, dan sebuah batas yang tak pernah sungguh saya inginkan. Mungkin karena saya tidak terlalu punya banyak keinginan, maka saya tak begitu peka dengan apa yang diinginkan orang atas diri saya. Atau mungkin karena terlalu banyak ingin yang tak terjadi, saya jadi tak begitu paham bagaimana caranya menyenangkan orang dengan diri saya ini..terkadang saya sampai begitu bingung saat berpikir untuk keinginan yang begitu saya ingini, sampai- sampai segala kepentingan yang lain menjadi tak begitu penting lagi. Tapi saya pasrah, bukan pasrah dengan keadaan, saya pasrah pada takdir. Sesuatu yang tak mungkin diubah, karena Tuhan menuliskannya untuk tiap manusia di dunia. Saya hanya ingin dengan takdir saya, saya bisa memberi kebahagiaan bagi manusia lain, apapun caranya. Dan dengan segala daya upaya, saya harus berusaha. Keinginan, kadang berbanding terbalik dengan keadaan. Dan untuk segala keinginan yang tak terjadi itu, saya terkadang bersikap angkuh, tak mau ikhlas. Dan lama- kelamaan saya sadar, ketidakikhlasan itulah yang membuat langkah saya begitu berat…Karena itu akan menjadi sebuah keterbatasan, limit, ketidakmampuan, kekerdilan dalam berpikir dan bertindak. Orang- orang di sekitar saya pun beragam. Mengacuhkan, tak peduli, sangat peduli, sangat mendukung, menikam dari belakang, memanfaatkan, membujuk rayu..ada beberapa dari mereka hidup dalam jiwa saya, mengalir dalam darah dan dendam saya, ada yang berusaha mengerti dan memahami, bahkan ada pula diantara mereka yang berusaha masuk ke dalam hati saya. Saya menerima mereka semua, menerima sebagai bagian dari kelengkapan hidup. Saya menghormati mereka semua. Ada dari mereka yang mengubah pandangan saya tentang dunia, membelokkan aliran dendam saya, melengkapkan kepasrahan saya, dan mengajarkan ilmu ikhlas dan nrimo pada saya. Sampai saya merasa begitu siap, begitu berani, tapi juga begitu waspada dan berhati- hati. Dia mengubah saya dengan kesadaran saya sendiri. Bahwa menyalahkan keadaan tidaklah bijaksana, bahwa dendam yang tak hilang hanya akan menjadi penyakit. Bagaimana mengelola rasa iri dan dendam, bagaimana membendung keinginan, bagaimana ikhlas menjalani apa yang harus dijalani, dan yakin bahwa kita akan berusaha menjadi yang terbaik dengan keadaan itu. Tanpa terlalu ngoyo, dan membebani diri sendiri ataupun orang lain. Entah mengapa hidup ini menjadi begitu ringan… Dan itulah hidup, belajar. Dari si A saya belajar untuk teguh dalam pilihan, dari B saya belajar untuk menjaga kesetiaan dan komitmen, dari C saya belajar lebih bekerja keras untuk sesuatu yang saya inginkan, dari D saya belajar untuk selalu berharap dan mempunyai keinginan. Dan itu benar, sayalah yang harus mengubah keadaan, bukan keadaan yang merubah saya. Prinsip dan pendirian ini, menjadi awal saya berubah menjadi seorang manusia baru. Manusia perlu mimpi, manusia butuh berharap untuk membuatnya selalu hidup. Meskipun ada keterbatasan, manusia tetap harus punya mimpi dan harapan. Dan yang terpenting, bagaimana mewujudkan mimpi dan harapan itu dengan kaki sendiri tanpa membebani orang lain, orang- orang yang kita sayangi. Itulah saya, saya yang sangat mencintai diri saya sendiri!!

PADA SUBUH

Wednesday, October 11th, 2006

Pada subuh mendekap merah lentera yang sibuk menggaduh, melenguh

Keseharianmu bagai kumbang berlarian mengejar zaman

Mengalunkan melodi dan denting- denting tak beraturan

Kamu, menginjak padang kupu- kupu merah jambu

Pelan dan mematikan

Pada tubuh di setiap persetubuhan yang memecahkan sumbu kelaminmu

Matamu melingkarkan tanya, menggenapkan bianglala di kala senja masih masyuk bercumbu sapa

Lalu liarmu jadi jamak yang menggerayangi tiap desah suara

Kamu, tak beranjak dari derit pintu yang membuka tabung- tabung tangismu

Membiarkan luka itu tetaplah terajam

Pada keluh membatu sepanjang waktu yang berjalan pelan dengan lenggang dan sejumlah peraturan

Bibirmu tak segan mengulum keheningan

Sebagaimana sungai mengalirkan air di antara bebatuan

Kamu, tetap menyalakan diam. Tak ada suara.

Pada lusuh membumi dan perlahan bersijingkit dengan kematian

Sungguh tak ada hujan di bahumu yang mengoyak biru kelambu

Segalanya mengering dalam dekapanmu

Sebagaimana malu tersembunyi di palung paling dasar hatimu

Pada riuh nyanyi jengkerik yang kian meluluhlantakkan perhitungan jemari

Semestinya bisa kujumpai tawamu yang miris mengiris batu- batu rindu

Dan cibirmu yang mengobrak- abrik perjalananku

Kamu, tetap berlalu meninggalkan musim tanpa menoleh sedetikpun

Pada gemuruh angin yang meribut di halaman belakang rumah kita

Kakimu meninggalkan jejak- jejak tak bersuara

Juga tarian tanganmu yang menggurat sepanjang dinding

Kamu, tetap saja menari tak berhenti

Dengan alunan letih kecapi

Pada simpuh sujudmu yang memilukan

Kamu membuatku menjumpai sedu sedanmu diantara ladang ilalang

Kamu membuatku tersesat ribuan kilometer dalam bimbang

Dan menyaksikan gemulai tarianmu tiba- tiba berhenti di tengah perjalanan

Kamu, membuat tangisku tak kuasa tertahan

Pada luruh membangunkan hatiku yang terus mendebar sampai ke entah

Tanganmu memeluk jutaan rindu yang liat dan melelahkan

Menyiraminya dengan basah airmatamu yang beruraian

Kamu, menggapai sejengkal kata kau kultuskan.

Cinta.

Dan kamu tak mau lebih jauh beranjak dari luka hanya karena sebuah kata. Ketakutan.

*Sang “Labdhaya Matapriya Hadiyaras” ku, menemukanmu segairah aku menemukan ayahku, Chairil!

KISAH YANG BERKARAT

Monday, October 9th, 2006

Haruskah kucukupkan perjalananku mencarimu? Meninggalkan suara- suaramu, raungan- raungan lirihmu, gelak tawamu, nyinyir cibirmu dan ketidakjelasan yang kaulahirkan. Haruskah? Yang kutahu, baru kali ini ada seorang lelaki berani membuatku bingung. Aku mencarimu. Lewat kabel internet, pesawat telepon, dering sms, sampai pelabuhan mimpi yang melankolis, entah mengapa aku sungguh takut kehilangan bayangmu.  Bukan sekedar bayangan memang, kedatangan dan kepergianmu bahkan tak meninggalkan bebauan, kedatangan dan kepergianmu hanyalah pertautan bingung dan bimbang. Juga benang merah keraguan, kegelisahan, dan ketidakterjangkauan.

Datang dan pergimu menjelaskan jarak. Entah jarak apa seperti ini, yang membikin lelah hati dan pikiran. Jarak yang aneh, tak bisa dijangkau mata, apalagi perjalanan. Sesuatu yang jauh dan terhalang badai dan ribuan topan.

Aneh. Mengapa aku yang mencarimu, mengapa kamu tak mau datang dengan segala yang ada padamu? Mengapa harus aku yang menunggu, mengapa harus aku yang dengan senang hati kerepotan menangisimu? Sekali lagi, seperti biasanya, kamu tak datang.

Kukatakan padamu, baru kali ini aku dibuat bingung. Aku sungguh mau mengulur jarak dan waktu hanya untuk menemuimu sekali saja. Asal kau tahu, tak mudah merenangi samudera kebingungan tanpa kompas dan pelampung. Aku bisa mati tenggelam karena kelelahan. Tapi apa kau mau tahu? Atau justru pura- pura tak tahu?

Sementara, di duniamu, kau bersenang- senang dengan wanita yang kausebut pacar itu. Uh..betapa sakit hatinya aku…tapi tetap saja aku mencarimu, untuk sebuah alasan yang tak akan terungkap hanya dengan menatap, yang tak akan tampak hanya dengan menebak!

Tak ada peta ataupun kompas. Yang pasti aku harus tetap mencarimu meski tanpa petunjuk. Kompas dan petaku adalah keyakinan, aku akan menemukanmu.

Kucatat tapal batas tempat pertama kau melangkah ke rimba kota yang jahanam itu, kucermati tiap kata dan bait- bait puisimu, mencoba menerawang pikiranmu, kubaca tiap jejak jalan yang kaulalui. Aku semacam arkeolog saja, tapi tetap saja yang kutemui bukanlah engkau, hanya sebuah luka lama, sebagaimana fosil yang berdebu, tak meninggalkan apapun. Aku lelah..

Kubuka lagi catatan lamaku. Mengapa aku mau sebegitu repot mencarimu? Membuat kisah yang tak tahu sampai di mana ujungnya. Kisahmu adalah rangkaian sisa- sisa kekuatanku yang terkumpul dengan doa yang luarbiasa. Kisahmu hanya tibatiba menjadi sebuah catatan…catatan yang meratap dan bersedih..menatap dan berkisah.

Tuhan, aku bersimpuh

Aku mempercayai lelaki itu, memberinya rindu yang terbaik yang lama terpasung dalam jiwa. Memberinya sebuah inti, bahwa aku sungguh menyayanginya, dengan hati, dan tidak dengan mata.

Seperti sel, tibatiba berdekat, namun tetap saja tak bisa melekat. Ada sesuatu di antara kami. Sebuah jeda yang selalu membuat kami terjaga selepas subuh, atau terbangun kala petang sudah enggan. Kabut..

Seperti sebuah kerinduan yang berjarak waktu, bukan inchi.

Jauh…sekali.

Padahal aku hanya ingin bertemu dengannya sekali saja, meresapi bau tubuhnya yang memasam karena hujan. Atau mencium lembut bibirnya yang menghitam karena tembakau terbakar. Lalu berbisik mesra di telinganya dengan kekhusukan doa perawan, “Aku sungguh menginginkanmu..”

Sedikit saja..sedikit saja..sebelum keberadaanmu hilang ditelan takdir bersama perempuan lain…tapi segalanya terlalu berat untuk diperjuangkan..Musnah harapan..ditelan gelombang..

Mimpi adalah kabut yang tak pernah mau menyingkir dari harapan manusia..Kehilangan adalah ketakutan yang tabah dan elok. Tapi kehilanganmu adalah mata yang haus akan ribuan jawaban. Aku hanya ingin memandangmu dari ketulusan nuraniku. Menciummu dengan kemurnian inginku. Dan menyimpanmu dengan keluguan yang paling bodoh.. Mari berpeluk dalam sukacita, cintaku. Dalam beribu predikat yang kita sandang sampai tahun jadi berdebu. Aku sungguh mencintaimu dengan segala kebusukan dan keindahanmu.

Aku merindukanmu……

Berapa harga sayap..

Agar aku bisa menjangkau hatimu di sana?

Cepatlah pulang, kembali ke khayalanku..

Bersama kabut.

Oh dunia..berapa jarak yang tercipta dengan kebingungan dan kebimbangan seperti ini? Jalan yang kutempuh adalah jelmaan kabut yang kejam dan lembab. Membuat setiap orang yang melewatinya menemui haus yang tak terhapus oleh air dari gunung manapun. Atau seperti dari awal aku yang tak cukup siap? Hanya memendam cinta yang terburu dan nekad? Atau melengkapkan pikiran yang lengah karena ingin memburu kesejatian? Aku, aku mencintai kabut ini.

Dengarlah. Aku akan tetap memberikan rindu yang sama kuatnya, entah akan menjelma sebagai apa engkau nanti, kekasih. Sebagai kabut, sebagai hujan, sebagai mendung, atau barangkali kau ingin menjelma sungai, gurun pasir, atau ladang jagung? Kalau kau dengar aku, jawablah kekasih..sekali saja. Agar lengkap kelelahan ini.

Lihatlah. Sebagaimana awal yang pernah kubicarakan denganmu, kisah ini tak pernah main- main, rindu ini bukanlah kamuflase, dan cinta ini tak pernah terlahir karena kebohongan. Percayai aku, sebagaimana malam mempercayakan cahayanya pada bulan.

Aku begitu, tahukah kamu? Aku tak peduli siapa yang ada di sampingmu  kini. Aku mengejarmu hanya karena aku menginginkanmu, hanya karena kau membiarkanku jadi seperti ini. Rasa sakit ini membuatku kuat untuk belajar terbang meski dengan meminjam sayap siapa. Aku tak peduli, meski kesakitan seperti apa yang kau berikan. Karena kau pasti akan merasakan sakitnya juga. Aku rela menjadi bodoh, karena kebodohan ini akan juga segera menjadi milikmu.

Juga ketika kau memutuskan untuk menjadi kabut. Aku bisa mencintaimu dengan segenap kekejaman dan kelembabanmu. Kalau begitu, biarkan aku menyapamu sebagai kabut, kalau aku bisa jadi embun pagi yang bersetia padamu. Atau biarkan aku bergelut denganmu sebagai asap, asal bisa aku menjangkau api yang menyulutmu. Cinta sebagaimana perumpamaan musim, sebagaimana percintaan bulbul. Semua melahirkan kisah.

Kamu datang begitu saja. Seperti kabut di pagi hari yang meresapkan dingin, seperti hujan yang meninggalkan jejakjejak lubang di tanah, seperti pemburu yang menurunkan sisa pelurunya di hutan. Kamu, lelaki yang berani membuat aku sebegini bingung..

Kalau begitu begini saja, seperti apa kau ingin mencintaiku, bagaimana kau ingin menyayangiku?

Turunlah sebagaimana kabut yang sombong itu..kalau dengan itu bisa mendekatkan duniamu padaku. Turunlah sebagaimana kabut yang pongah itu, lalu kau bisa melihatku terengah- engah dalam pelarian yang berputar- putar.

Ikutlah berlari bersamaku, kau akan mengerti, mengapa aku sangat menyukai perjalanan seperti ini, perjalanan yang tak biasa, mencari kepingan hati yang datang dan pergi tanpa suara…..

Apakah hanya ketidaktahuan ini yang membuatku kuat berlari? Ah tidak, rasanya perlu banyak tahun untuk membuat langkah ini begitu nyata dan meyakinkan. Apakah hanya karena hati yang penasaran aku mampu menyelesaikan perjalanan? Mungkin juga tidak, karena cinta butuh kekuatan. Apalagi menyelesaikan jarak yang tak kasat mata..

Kamu, lelaki yang berani membuatku begitu bingung. Lelaki yang hampir membuatku putus asa, seperti berlari di pepasir yang tak teduh.

Anjing! Aku betul merasa lelah kali ini. Ehm, begini saja. Aku akan berhenti sejenak, agar tak terlalu lelah.

Lalu apa? Jarak ini semakin tak terjangkau. Istirahat membuat hatiku terpasung di tapal batas pencarianku. Dan doa- doa rasanya tak mampu lagi menjadi satu keluarbiasaan bagiku. Kaki ini tak sanggup lagi berlari. 1 sentimeter sebagaimana 10.000 kilometer. Dan kabut itu, kabut itu tak mau pergi dari hadapku, sama sepertimu yang selalu membuang muka pada perjuanganku.

Lihatlah! Hujan turun perlahan, dan aku akan sangat senang mendapatimu sekarat di tengah badai kebingungan! Seperti aku saat ini. Aku lelah! Aku berhenti!                    Akhir pencarian.