JANJI MATAHARI
Thursday, November 30th, 2006tetaplah terik dalam luka hujan dan khianat dingin
(kaubilang esok matahari cuti bersinar)
tetaplah terik dalam luka hujan dan khianat dingin
(kaubilang esok matahari cuti bersinar)
Setelah luka maka berjanjilah
Untuk mengundang Monalisa tersenyum (dalam angkuhnya).
seperti kauceritakan padaku sebuah rahasia laut
tentang kerang, teripang, bebatuan, lumut, juga sepasang putri duyung
serupa tangismu yang tibatiba pecah di sunyi kita
pecah ombakmu mencipta surga, petak jalan, tanah subur dan doa karang
meski meliar larimu
menaiki angin, melewati rindu bebatuan
kusimpan kisahmu dalam keganasan ombak yang mencipta sebuah rahasia
bergelombang tenang, memupus karang
hanya suaramu yang bergetar
sebagaimana saat kau ceritakan padaku sebuah rahasia laut
ternyata hidupmu adalah debur ombak yang tak mau tenang
menggulung kenangan yang tersimpan dan terbuang
juga beberapa hiasan kerang yang membatu di sisi karang
apakah kau yang tenggelam dalam pusaran air yang mengganas itu?
Laut telah menelanmu dengan berjuta kenangan yang kutitipkan padamu
Juga rahasia yang menjadi hutang tak terbayar
Sebuah rahasia laut yang abadi
Di tanganmu, kawanku.
Ijinkan aku ikut tenggelam bersamamu.
Ketika laut menjadi begitu dekat..aku sangat ingin memelukmu.
01.11.06/ 10.11pm/di sebuah pintu
Di sini sama saja dengan apa yang kamu singkirkan
sebuah rumah sempit tanpa ventilasi yang cukup
satu pintu, tanpa jendela
beranda yang tak lebar dan tak teduh
juga rintihan sesak nafas dan kesakitan
ketika kamu masuki rumah sempit ini
mungkin rasanya seperti mau meledak saja
tak ada pagar, atau ternak tetangga
amarah dan tawa seperti tak ada beda
rumah ini,
menampung kesal dan kebencian
beban pengkhianatan dan luka bualan
kelak siapa yang akan menghuni
sebuah rumah tanpa cukup ventilasi
bagaimana mau merdeka?
bagaimana bisa menikmati senja, tanpa satupun jendela
di sini jauh dari apa yang kamu pikirkan
aku tak takut kamu menyebutnya rumah sakit jiwa
Mari sini,
Siapa hendak bertandang
Menjejak jarak, mencari jawaban
Mengobati luka yang lama terperam
Dan mencium senja di sebuah rumah tanpa jendela,
Sebuah rumah jiwa
Aku tahu di luar masih ada matahari, meski tertombak, dan hampir mati.
Jiwa yang sakit belum tentu gila, jangan takut mendekat.
02.11.06/12.16pm/ masih di sebuah pintu.
(Sajak Sepasang Kaki)
Hidup bukanlah sekedar drama yang patah di fragmen ke empat
Bukan juga sekedar ketakutan pada siksa dan sekarat
Hidup itu bukan sekedar putih yang melilit jalinan rambut
Hidup bukanlah gumpalan kecemasan yang berurat berakar
Karena takut itu fitrahnya manusia
Hidup adalah putaran roda tak henti
Mengalir mendekat dan menjauhi
Atau tarian pena tak putus
Dari jemari- jemari tua yang mulai kisut
Berhentilah mengaduh, karena kepasrahan adalah doa yang sebenarnya utuh
Jangan ulangi mengeluh, karena keikhlasan adalah sepasang kaki yang kuat untuk menjauhkan peluh.
Layar masih terbentang meski tak membuat tenang
Layar masih terlalu kokoh untuk sekedar mengadu pokok
Dan sepasang kaki masih terlalu kuat untuk bisa mengejar harap!
setidaknya bertemu dalam sebuah kata yang tak kan dengan mudah mampu meresapkannya.
setidaknya berjumpa dalam sebuah tanda, yang tak semua orang mampu menerjemahkannya.
setidaknya hadir dalam kesejatian, yang tak semua manusia mampu membacanya
dan setidaknya kukuh pada satu janji, yang tak semua orang bisa menepatinya.
siapa yang datang lalu memburu tanya?
datang dengan kehampaan yang nyata setelah begitu jauh merangkai jalan yang tak terbaca
kuterima kedatanganmu sebagai sebuah kata
kusapa keberadaanmu sebagai sebuah tanda
kuiyakan hadirmu yang sebagai satu kesejatian
dan kutunggu kisahmu sebagai sebuah janji yang kukuh
kamu yang datang dengan memburu tanya
melengkapkannya pada haus gersang gurun tak bernama
lalu hilang sebagai gumpalan asap dan bilur- bilur nestapa
kalau ini adalah kata, jawablah dengan kata
kalau ini tanda, terjemahkan dengan tanda
andai ini kesejatian, ungkapkan dengan kesejatian
jika ini janji, tepatilah dengan janji
karena geliat yang tak terbaca hanya akan jadi tanya
karena keindahan tanpa cerita itu sia- sia
bila hatimu telah mau berhenti di titik ini
bersedia mengadu kisah dalam lingkaran
setidaknya kita telah berani
menatap kesejatian