Archive for November, 2006

JANJI MATAHARI

Thursday, November 30th, 2006

tetaplah terik dalam luka hujan dan khianat dingin

(kaubilang esok matahari cuti bersinar)

SETELAH

Thursday, November 23rd, 2006

Setelah luka maka berjanjilah

Untuk mengundang Monalisa tersenyum (dalam angkuhnya).

RAHASIA LAUT

Thursday, November 2nd, 2006

seperti kauceritakan padaku sebuah rahasia laut

tentang kerang, teripang, bebatuan, lumut, juga sepasang putri duyung

serupa tangismu yang tibatiba pecah di sunyi kita

pecah ombakmu mencipta surga, petak jalan, tanah subur dan doa karang

meski meliar larimu

menaiki angin, melewati rindu bebatuan

kusimpan kisahmu dalam keganasan ombak yang mencipta sebuah rahasia

bergelombang tenang, memupus karang

hanya suaramu yang bergetar

sebagaimana saat kau ceritakan padaku sebuah rahasia laut

ternyata hidupmu adalah debur ombak yang tak mau tenang

menggulung kenangan yang tersimpan dan terbuang

juga beberapa hiasan kerang yang membatu di sisi karang

apakah kau yang tenggelam dalam pusaran air yang mengganas itu?

Laut telah menelanmu dengan berjuta kenangan yang kutitipkan padamu

Juga rahasia yang menjadi hutang tak terbayar

Sebuah rahasia laut yang abadi

Di tanganmu, kawanku.

Ijinkan aku ikut tenggelam bersamamu.

Ketika laut menjadi begitu dekat..aku sangat ingin memelukmu.

01.11.06/ 10.11pm/di sebuah pintu

RUMAH (SAKIT) JIWA

Thursday, November 2nd, 2006

Di sini sama saja dengan apa yang kamu singkirkan

sebuah rumah sempit tanpa ventilasi yang cukup

satu pintu, tanpa jendela

beranda yang tak lebar dan tak teduh

juga rintihan sesak nafas dan kesakitan

ketika kamu masuki rumah sempit ini

mungkin rasanya seperti mau meledak saja

tak ada pagar, atau ternak tetangga

amarah dan tawa seperti tak ada beda

rumah ini,

menampung kesal dan kebencian

beban pengkhianatan dan luka bualan

kelak siapa yang akan menghuni

sebuah rumah tanpa cukup ventilasi

bagaimana mau merdeka?

bagaimana bisa menikmati senja, tanpa satupun jendela

di sini jauh dari apa yang kamu pikirkan

aku tak takut kamu menyebutnya rumah sakit jiwa

Mari sini,

Siapa hendak bertandang

Menjejak jarak, mencari jawaban

Mengobati luka yang lama terperam

Dan mencium senja di sebuah rumah tanpa jendela,

Sebuah rumah jiwa

Aku tahu di luar masih ada matahari, meski tertombak, dan hampir mati.

Jiwa yang sakit belum tentu gila, jangan takut mendekat.

02.11.06/12.16pm/ masih di sebuah pintu.

LAYAR

Wednesday, November 1st, 2006

(Sajak Sepasang Kaki)

Hidup bukanlah sekedar drama yang patah di fragmen ke empat

Bukan juga sekedar ketakutan pada siksa dan sekarat

Hidup itu bukan sekedar putih yang melilit jalinan rambut

Hidup bukanlah gumpalan kecemasan yang berurat berakar

Karena takut itu fitrahnya manusia

Hidup adalah putaran roda tak henti

Mengalir mendekat dan menjauhi

Atau tarian pena tak putus

Dari jemari- jemari tua yang mulai kisut

Berhentilah mengaduh, karena kepasrahan adalah doa yang sebenarnya utuh

Jangan ulangi mengeluh, karena keikhlasan adalah sepasang kaki yang kuat untuk menjauhkan peluh.

Layar masih terbentang meski tak membuat tenang

Layar masih terlalu kokoh untuk sekedar mengadu pokok

Dan sepasang kaki masih terlalu kuat untuk bisa mengejar harap!

SEBUAH PENERIMAAN

Wednesday, November 1st, 2006

setidaknya bertemu dalam sebuah kata yang tak kan dengan mudah mampu meresapkannya.

setidaknya berjumpa dalam sebuah tanda, yang tak semua orang mampu menerjemahkannya.

setidaknya hadir dalam kesejatian, yang tak semua manusia mampu membacanya

dan setidaknya kukuh pada satu janji, yang tak semua orang bisa menepatinya.

siapa yang datang lalu memburu tanya?

datang dengan kehampaan yang nyata setelah begitu jauh merangkai jalan yang tak terbaca

kuterima kedatanganmu sebagai sebuah kata

kusapa keberadaanmu sebagai sebuah tanda

kuiyakan hadirmu yang sebagai satu kesejatian

dan kutunggu kisahmu sebagai sebuah janji yang kukuh

kamu yang datang dengan memburu tanya

melengkapkannya pada haus gersang gurun tak bernama

lalu hilang sebagai gumpalan asap dan bilur- bilur nestapa

kalau ini adalah kata, jawablah dengan kata

kalau ini tanda, terjemahkan dengan tanda

andai ini kesejatian, ungkapkan dengan kesejatian

jika ini janji, tepatilah dengan janji

karena geliat yang tak terbaca hanya akan jadi tanya

karena keindahan tanpa cerita itu sia- sia

bila hatimu telah mau berhenti di titik ini

bersedia mengadu kisah dalam lingkaran

setidaknya kita telah berani

menatap kesejatian