SEBUAH KISAH SEDIH
Thursday, December 21st, 2006Tak ada lagi yang bisa kita percakapkan. Aku pergi, menutup pintu hati. Kuingat malam itu, bukan cuma dingin yang melabrak galak. Tapi masih kuingat bau yang kautinggalkan di penciumanku saat kau membalikkan badan tegapmu. Harumnya tersisa sampai sekarang. Kuingat pula pada saat itu, ada tangisku yang tertahan. Tapi bening air di pojok mataku bunting oleh kesedihan yang amat sangat, aku menangis..
Sungguh tak ada lagi yang bisa kita percakapkan. Esok adalah padang halimun yang membuat lamat bagaimana aku harus berbagi sedih, berbagi riang, berbagi resiko, berbagi kenangan…
Sedih selalu tak bisa dipercakapkan lebih lama. Lalu kuingat satu persatu kalimatmu saat aku melangkah pergi. Kuingat pula, saat aku sendiri, untuk mengenang. Kalimat- kalimat yang terucap dari bibir yang bergetar, bibir yang dipaksa untuk mengucapkan sesuatu yang belum bisa kauterima. Dan di dalam rongga dadaku, seperti ada badai pasir yang menggerakkan daun- daun ilalang. Mencabik- cabik, mengoyak, menoreh luka di sana- sini.
Tapi seandainya kamu tahu, aku adalah orang yang terlalu mencintai diriku sendiri. Aku suka desir darimu. Aku menikmati perasaan bergetar saat kita bercakap, saat kamu mengirimiku kata- kata indah dalam pesan- pesanmu. Kamu, kamu lelaki yang menggetarkanku, pada tiap malam dan pagiku, pada beberapa bulan pertemuan lalu.
Aku menyukai desir- desir dan getaran- getaran aneh itu. Tapi yang lebih aneh, aku tak ingin itu berlalu sekaligus berubah. Aku tidak ingin kehilangan desir dan getar itu, sangat tidak ingin. Aku takut begitu tak ada lagi jarak, getar dan desir itu hilang. Lalu aku jadi algojonya, jadi mesin penghancurnya. Dan kita akan sama- sama sakit.
Aku tahu, membiarkanmu adalah sebuah kesalahan. Orang- orang di sekitarku adalah orang- orang yang sangat baik. Tapi kebaikan sering tidak berbanding lurus dengan rasa suka. Kebaikan mungkin berbanding lurus dengan kapling di surga. Tapi rasa suka adalah sebuah keganjilan yang tidak butuh pengantar apapun.
Yang menggetarkan selalu berjarak. Yang menggetarkan selalu punya potensi tak tertebak. Itu semua ada di dirimu. Jarak, getar, desir, degup, bom waktu. Aku bertahan, harus terus bertahan. Aku tidak akan mengiyakan ataupun menolak. Aku harus terus- menerus menciptakan jarak itu. Sesungguhnya yang kujaga adalah getar dan desir itu. Aku memang egois dan terlalu mencintai diriku sendiri.
Lalu kau pergi. Meninggalkanku dengan pertanyaan- pertanyaan yang nyaris tak kumengerti. Saat kau melenggang pergi, kutatap habis punggungmu yang menggambarkan peta perjalanan yang tak aku tak mau tahu, siapa dan apa saja yang telah kaulakukan di luar sana. Mungkin kau habis bercinta dengan si A, atau habis menelepon si Z, atau malah bertengkar dengan S. Aku sungguh tak mau tahu. Tidak pernah kutanyakan, apa kau masih bersama wanita- wanita itu atau tidak. Aku sungguh tak mau tahu.
Selalu kutatap lekat punggungmu dan kuhafal gerak tubuhmu saat pergi dariku. Dengan riang atau kecewa. Kuhafal itu, semua. Kamu kurindu, lebih dari orang- orang yang merindukan koran pagi, libur akhir pekan, atau percintaan yang melelahkan. Aku ingin seperti air sungai yang menampung airmu dan mengalirkannya terus- menerus. Rasa yang selalu berjarak..tak bosan- bosan. Tak selesai…
Kamu kubayangkan sebagai orang yang bernyanyi sendiri di sebuah taman pada suatu malam yang berkabut. Kamu selalu kubayangkan sebagai tokoh- tokoh dalam film yang kutonton, novel- novel yang kubaca, dan cerita- cerita yang terimaji di otakku.
Hingga datang malam yang jahat itu, yang mengantarmu sekaligus membawamu pergi, bukan hanya jauh, tapi suatu arah yang tak bisa lagi kulacak. Malam yang memberi tempat dan mengiringimu untuk bercerita panjang tentang kisah sedih dari bibirmu yang bergetar. Malam yang kemudian memberiku pilihan, hanya 1 pilihan. Yang harus kulakukan. Malam yang memberiku pilihan bahwa aku harus lebih dulu meninggalkanmu, sebab aku takkan kuasa lagi memandang lekat punggungmu yang kutahu, kau takkan kembali lagi. Malam yang memberitahuku kalau ada kisah- kisah lain yang tidak pernah kutonton dalam film, kubaca dari novel, atau kureka di otak. Cerita sedihku yang tak pernah terlintas dalam dunia rekaanku atasmu, tak pernah kubayangkan akan menjadi kisah yang kujalani saat ini, bersamamu. Sebuah malam yang hanya memberiku satu kesimpulan bahwa: Kesedihan tak bisa dipercakapkan lebih panjang…
** pada malam di mana aku bercakap dengan Puthut di pikiranku. Memang tak ada yang lebih bodoh dari membuat kesedihan itu semakin nyata. Dan aku senang kau mau menjelaskan padaku tentang kesedihan itu.
Sebuah analogi yang sempurna. Membuat satu stimulus baru untukku berpikir. Luka yang sama kukecap justru di awal harapan itu tumbuh. Tanpa ampun, tanpa bisa memohon, bahkan tanpa bisa berharap, aku kehilangan semua itu. Kehilangan kepercayaan, keyakinan, harapan dan sekaligus kehilangan kata- kata. Aku diam, menanti waktu mengubah segalanya. Dan tak ada yang berubah. Setelah keinginan itu hidup lagi dalam jiwaku, sesaat tersadar, bahwa kepedihan memang tak pantas dipercakapkan lebih panjang. Dan aku mengikuti kata hatiku, bahwa aku harus meninggalkan kungkungan kepedihan itu dengan berlari sejauh dan sekencang mungkin! januari 2006