Archive for January, 2007

bulan tembaga

Wednesday, January 31st, 2007

BULAN TEMBAGA

Selingkar bulan tembaga mengangakan cahaya

Mengintip di sebalik jendela

Sedikit saja meretas ingin, tapi tak mau

Ya, waktu tak mau bergeming

Menyaru sapamu, wahai bulan tembaga

Pada badanmu, serupa Morgot terdampar pada ketersesatan ragawi

Seperti juga di lukisan-lukisan di gelisahku

Seperti aku,

Berkaca padamu

Hitam dan lelah itu untuk siapa?

Melepasmu, seperti memanggul debur laut di bahuku.

Tapi sudahlah, aku mengerti, dan mengalah pada akhirnya.

pergi..

Wednesday, January 24th, 2007

PERGI

Ketika pergimu

Menjadi sebuah pemandangan yang usai

Lalu menari

Tiap jengkal kekesalan di hati

Karena pergimu bukanlah karma yang harus kutanggung

Hanya saja aku mulai tak bisa melepasmu sebagai angin yang menderu gunung

menulis sebuah ketidakrelaan

jakarta pagi hari/240107/05.30

re vo lu si

Wednesday, January 24th, 2007

RE VO LU SI

Sebuah kata bertaut dalam revolusi

Mengalir cepat dan beradaptasi

Lalu beranjak dalam baur sajak

Aku menantimu mengikat revolusinya

Bergerak bersama

Lalu ikut di pusaran maknanya

jakarta dalam hujan, masih menantikan seseorang berpuisi lagi bersama;)

240107/15.30

ada yang hilang

Wednesday, January 24th, 2007

ADA YANG HILANG

Kusinggahi sejumput kenangan yang habis terbakar

Bersamamu hujan serasa berjatuhan bulir berkah yang tak sabar menangguk resah

Meski ada yang hilang dari kedalaman hati kita

sesungguhnya malam tak pernah menghentikan usapan kabutnya

lalu gelisah pun tak pantas jadi tawanan

jangan bergeming!

dari kedalaman malam, aku berteriak, tapi sayang kau tak pernah mendengar.

danau UI Depok/210107/05.00

mendung…MENDUNG

Monday, January 22nd, 2007

Sembunyikan dirimu dari sergapan mendung yang beringas. Mendung masa lalu yang berlari kencang, lebih kencang dari gelombang dan namun terkadang bisa lebih lembut dari angin..

Siapkan dirimu untuk menyambut petang yang tak pernah datang karena terundang. Atau hujan yang tiba-tiba menyiapkan petir.

Sedang aku hanya menulis di balik kelambu yang sama suramnya dengan lelembar buram di tanganku

Dekaplah rerumputan yang basah seusai bercinta dengan kabut..oo..ringannya dunia ini kugenggam..

Terkadang memang aku risih dengan waktu yang tak bisa diam. Selalu saja meminta jawaban dari berjuta pertanyaan yang tak kumengerti…

Bulirbulir keringat berjatuhan seperti gerimis pagi, menenggelamkan dedaunan kering yang jatuh di sepanjang sungai..

Air bagai cermin yang bening dan rajin mengalir, menghanyuti, memenuhi riak gelombang dan suasana pasir

Entah mengapa hati begitu sulit merangkai kebahagiaan yang tak bisa seragam ini..

Padahal meskipun tanpa rumusan, gambarannya sudah terlalu jelas bahkan tak bisa ditutupi lagi, terlalu gamblang

Tak bisa kucatat sendiri deru badai yang seakan ingin menelanku hiduphidup

Tak bisa kuhafal sendiri kobaran api yang ingin meleburku perlahan..

Tak bisakah kubaca detak jantungku sendiri?

Saat aku ingin membenci atau malah sangat ingin mencintai seseorang..

Tak bisakah kutebak nadiku saat aku bergetar menginginkan belaian itu jatuh di dadaku..

Masa lalu begitu mudah menemukanku, menebak kedatanganku dan akhirnya membuatku terdampar dalam sebuah ruang gelap tak berlampu bernama kesunyian

Aku selalu merasa sendiri, dalam senyum, dalam kegetiran, tak pernah bisa memaknai semua itu..tak bisa..

Sendiri, bukan hukuman.

Sendiri, tak berarti siksaan

Karena sendiri itu menikmati keluasan..

Bergerak

Berderak

Berarak

Rak

Ak

k….

–hanggorarasz–

lipatan waktu/ sepi di kantor/ ingin berkencan dengan angin jakarta, (lagi).

Ayo siapkan diri, mari berkelana….

Jakarta, 6/1/07, 21.05.

nasuha ragaula

Sunday, January 21st, 2007

NASUHA RAGAULA*

Gelap. Terkesiap. Di dadanya taring dan cula.

Mengendap senyawasenyawa dosa memberat, menjerat, laknat.

Akulah Ragaula!

Yang terbakar dalam sendisendi simpuh nasuha..

Lalu, “Bakar!!” kata mereka.

Tubuhku mengejang dalam api taubat

Lalu terimgat, sebait tembang yang kulagukan dalam hina

Adakah yang lebih indah dari sepasang sayap yang bakal jadi selimut mimpimimpiku?

Adakah yang lebih indah dari sepasang mata  yang akan menjilati setiap keindahan tubuhku?**

Akulah..Ragaula

Yang di lambungnya tertancap linggis membara

Doa tertabur dari sebentuk bibir yang meranum dan meletupletup

Kubiarkan waktu membakarku, membakat tiap peluh dosaku

Aku meleleh, mengakrabi ujung senja, lungkrah.

Aku Ragaula

Jatuh, terduduk, simpuh, mengaduh, luruh, berpeluh

Astaghfirullahal adziem…

Aku tergetar

Lalu hilang segala rupa tanduk dan cula

Padam semua api dan nyala

Tibatiba aku ingin bersimpuh lagi, berlutut lagi

Di sebuah kedalaman yang tak terlihat

Laa illaha ilallah..

Aku masih Ragaula, Tuhan..

Yang tibatiba terpancar beribu percik air dari sujudnya

Yang mengalir tasbih dan takbir dari katupkatup raganya

Aku sekarang debu

Debu raga Ragaula

Masihkah pantas meratapi dosa

Sa’altuka yaa ghoffaru ‘afwan wa taubatan.. Ya..Allah..

Aku debu raga Ragaula

Menyatu angin di kembaranya

Pasrah, kubersimpuh

Samudera luruh dalam sujudku

Lelapku dalam nyanyi dzikir dan tadarus melagu asma Rabbku

Laa illaha ilallah…

Aku debu Ragaula

Yang terbasuh nasuha

Sayup adzan membelaiku

Luruh. Bergetar. Lebur.

Rabbanaghfir lana watib ‘alayna

Innaka antat tawwabur rahiim..

Ampuni aku ya Allah..

21.01.07/kamar kos/setelah 2 hari menutup pintu kamar dan pintu hati

Memasuki tahun baru 1428 H, ada sesuatu yang harus kulebur..

*Ragaula adalah tokoh sentral dalam cerpen Triyanto Tiwikromo, “Ragaula”, di kumpulan cerpennya ‘Anak-anak Mengasah Pisau’.

**penggalan dialog pendek dalam “Ragaula”.

HARI INI SEPI DI BENAKKU

Sunday, January 21st, 2007

Hari ini sepi di benakku

“betapa kunangkunang menjadi begitu beringas dalam sepi,” desismu

lalu bukitbukit yang bergetar meretak dan pecah di tak tentu kedalaman

ada sebentuk diam yang meraungraung meminta jawaban

darimu yang sibuk mencipta sepiku berhari- hari

sepasang mata mengawasimu memasuki

kota

menyapa jejak

kan

ak-kanak mengoyak kelambu musim

merobek-robek jantung usiaku ketika

kukata aku tak mau pergi

kau meniti trotoar

bersamamu seorang perempuan, mengikat lehernya dengan selendang

melenggang tak pedulikan kirikanan

kau tak percaya,

ketika kukata, “Sepi adalah monster terkejam dan hukuman terbengis

sepanjang kisah..”

yang tk mati dihantam Goliath

yang tak beku dimakan salju

memangsa kesendirian

aku berdiri di sebuah ketinggian

menikmati sepi yang menelanku pelan-pelan..

kamar kos/09.01/241206

semua orang menikmati harinya sendirisendiri

aku..sepi.

merindukan tawa kita Fi!

SURAT YANG TAK PERNAH SAMPAI*

Thursday, January 18th, 2007

SURAT YANG TAK PERNAH SAMPAI*

Suratmu itu tidak akan pernah terkirim, karena sebenarnya kamu hanya ingin berbicara pada dirimu sendiri. kamu ingin berdiskusi dengan angin, dengan wangi sebelas tangkai sedap malam yang kamu beli dari tukang bunga berwajah memelas, dengan nyamuk-nyamuk yang cari makan, dengan malam, dengan detik jam…..tentang dia

Dia, yang tidak pernah kamu mengerti. Dia, racun yang membunuhmu perlahan. Dia, yang kamu cipta dan kamu cipta.

Sebelah darimu menginginkan agar ia datang membencimu hingga muak dia mendekati gila, menertawakan segala kebodohannya, kekhilafannya untuk sampai jatuh hati padamu, menyesalkan magis yang hadir naluriah setiap kali kalian berjumpa. Akan kamu kirimkan lagi tiket bioskop, bon restoran, semua tulisannya—dari mulai nota sebaris sampai doa berbait-bait. Dan beceklah pipinya karena geli, karena asap dan abu dari benda-benda yang ia hanguskan—bukti-bukti bahwa kalian pernah saling tergila-gila—beterbangan masuk ke matanya. Semoga ia pergi dan tak pernah menoleh lagi. Hidupmu, hidupnya, pasti akan lebih mudah.

Tapi, sebelah dari kamu menginginkan agar ia datang, menjemputmu, mengamini kalian, untuk kesekian kali, jatuh hati lagi, segila-gilanya, sampai batas gila dan waras pupus dalam kesadaran murni akan cinta. Kemudian mendamparkan dirilah kalian ke sebuah alam tak dikenal untuk membaca ulang semua kalimat, mengenang setiap inchi perjalanan, perjuangan, dan ketabahan hati. Betapa sebelah darimu percaya bahwa setetes air mata pun akan terhitung, tak ada yang mengalir mubadzir,segalanya pasti bermuara di satu samudra tak terbatas, lautan merdeka yang bersanding sejajar dengan cakrawala………dan itulah tujuan kalian.

Kalau saja hidup tak ber-evolusi, kalau saja sebuah momen dapat selamanya menjadi fosil tanpa terganggu, kalau saja kekuatan kosmik mampu stagnan di satu titik, maka………..tanpa ragu kamu akan memilih satu detik bersamanya untuk diabadikan. Cukup satu.

Satu detik yang segenap keberadaanya dipersembahkan untuk bersamamu, dan bukan dengan ribuan hal lain yang menanti untuk dilirik pada detik berikutnya. Betapa kamu rela membatu untuk itu.

Tapi, hidup ini cair. Semesta ini bergerak. Realita berubah. Seluruh simpul dari kesadaran kita berkembang mekar. Hidup akan terkikis apa saja yang memilih diam, memaksa kita untuk mengikuti arus agungnya yang jujur tapi penuh rahasia. Kamu, tidak terkecuali.

Kamu takut.

Kamu takut karena ingin jujur. Dan kejujuran menyudutkanmu untuk mengakui kamu mulai ragu.

Dialah bagian terbesar dalam hidupmu, tapi kamu cemas. Kata ”sejarah” mulai menggantung hati-hati diataas sana. Sejarah kalian. Konsep itu menakutkan sekali.

Sejarah memiliki tampuk istimewa dalam hidup manusia, tapi tidak lagi melekat utuh pada realitas. Sejarah seperti awan yang tampak padat berisi tapi ketika disentuh menjadi embun yang rapuh.

Skenario perjalanan klaian mengharuskanmu untuk sering menyejarahkannya, merekamnya, lalu memainkannya ulang di kepalamu sebagai Sang Kekasih Impian, Sang Tujuan, Sang Inspirasi bagi segala maha karya yang termuntahkan ke dunia. Sementara dalam setiap detik yang berjalan, kalian seperti musafir yang tersesat di padang. Berjalan dengan kompas masing-masing tanpa ada yang berusaha salingmencocokkan. Sesekalikalian bertemu, berusaha saling toleransi atas nama Cinta dan Perjuangan yang Tidak Boleh Sia-sia. Kamu sudah membayar mahal untuk perjalanan ini. Kamu pertaruhkan segalanya demi apa yang kamu rasa benar. Dan mencintainya menjadi kebenaran tertinggimu.

Lama baru kamu menyadari bahwa Pengalaman merupakan bagian tak terpisahkan dari hubungan yang diikat oleh seutas perasaan mutual.

Lama  bagi kamu untuk berani menoleh ke belakang, menghitung, berapa banyakkah pengalaman nyata yang kalian alami bersama??

Sebuah hubungan yang dibiarkan tumbuh tanpa keteraturan akan menjadi hantu yang tidak pernah menjejak bumi, dengan alasan cinta yang tadinya diagungkan bisa berubah menjadi utang moral, investasi waktu,perasaan,serta perdagangan kalkulatif antara dia pihak.

Cinta butuh dipelihara. Bahwa didalam sepak terjangnya yang serba mengejutkan, cinta ternyata masih butuh mekanisme agar mampu bertahan.

Cinta jangan selalu ditempatkan sebagai iming-iming besar, atau seperti ranjau yang tahu-tahu meledakkanmu—entah kapan dan kenapa. Cinta yang sudah dipilih sebaiknya diikutkan di setiap langkah kaki, merekatkan jemari, dan berjalanlah kalian bergandengan……….karena cinta adalah mengalami.

Cinta tidak hanya pikiran dan kenangan, lebih besar, cinta adalah dia dan kamu. Interaksi. Perkembangan dua manusia yang terpantau agar tetap harmonis. Karena cinta pun hidup dan bukan Cuma maskot untuk di sembah sujud.

Kamu ingin berhenti memencet tombol tunda. Kamu ingin berhenti menyumbat alami hidup dan membiarkannya bergulir tanpa beban.

Dan kamu tahu, itulah yang tidak bisa ia berikan kini. Hingga akhirnya…………..

Di meja itu, kamu dikelilingi tulisan tangannya yang tersisa ( kamu baru sadar betapa tidak adilnya ini semua,kenapa harus kamu yag kebagian tugas dokumentasi dan arsip, sehingga Cuma kamulah yang tersiksa?)

Jangan heran kalau kamu menangis sejadi-jadinya.

Dia, yang tidak pernah menyimpan gambar rupamu, pasti tidak tahu apa rasanya menatap lekat-lekat satu sosok, membayangkan rasa sentuh dari helai rambut yang polos tanpa busa pengeras, rasa hangat uap tubuh yang kamu hafal betul temperaturnya.

Dan kamu hanya bisa berbagi kesedihan itu, ketidakrelaan itu, kelemahan itu, dengan wangi bunga yang melangu, dengan nyamuk-nyamuk yang putus asa, dengan malam yang pasrah digusur pagi, dengan detik jam dinding yng gagu karena habis daya.

Sampai pada halaman kedua suratmu, kamu yakin dia kan paham,atau setidaknya setengah memahami, betapa sulitnya perpisahan yang dilakukan sendiri.

Tidak ada sepasang mata lain yang mampu meyakinkanmu bahwa ini memang sudah usai. Tidak ada kata, peluk, cium, atau langkah kaki beranjak pergi,yang ammpu menjadi penanda dramatis bahwa sebuah akhir telah diputuskan bersama.

Atau sebaliknya, tidak ada sergahan yang membuatmu berubah pikiran, tidak ada kata ”jangan” yangmungkin, apabila diucapkan dan ditindakkan dengan tepat,a kan membuatmu menghambur kembali dan tak mau pergi lagi.

Kamu pun tersadar,itulah perpisahan paling sepi yang pernah kamu alami.

Ketika surat itu tiba di titik yang terakhir, masih akan ada sejumput kamu yang bertengger tak mau pergi dari perbatasan usai dan tidak usai.bagian dari dirimu yangm erasa paling bertanggungjawab atas semua yang sudah kalian bayarkan bersama demi mengalami perjalanan hati sedasyat itu. Dirimu yang mini,tapi keras kepala,memilih untuk tidak ikut pergi bersama yanglain, menetap untuk terus menemani sejarah. Dan karena waktu semakin larut, tenagamu pun sudah menyurut, maka kamu akan membiarkan si kecil tiu bertahan semaunya.

Mungkin, suatu saat, apabila sekelumit dirimu itu miulai kesepian dan bosan, ia akan berteriak ingin pulang. Dan kamu akan menjemputnya, lau membiarkan sejarah membentengi dirinya dengan tembok tebal yang tak lagi bisa ditembus. Atau mungkin, ketika sebuah keajaiban mampu menguak kekeruhan ini, jadilah ia semacam mercusuar, kompas, Bintang Selatan………..yang menunjukkan jalan pulang bagi hatimu untuk, akhirnya, menemuiku.

Aku, yang merasakan apa yang kau rasakan. Yang mendamba untuk mengalami. Aku, yang telah menuliskan surat-surat cinta padamu. Surat-surat yang tak pernah sampai.

*SURAT YANG TAK PERNAH SAMPAI- FILOSOFI KOPI-DEWI LESTARI

Sejenak memahami tulisan Dee.

Suratsurat yang kutulis memang tak pernah sampai, dan aku tak peduli. Aku sungguh tak peduli apakah dia akan membaca surat-suratku di ladang berangin atau justru di hutan belantara. Menyibak rahasia, belajarlah.