Archive for February, 2007

NYAWA

Saturday, February 24th, 2007

NYAWA

Yang terbilang dalam tiap detak jantungmu, Bapak.

Sekarang teralun dalam doa kami

Kami

yang menjaga nyalamu

yang mengenang padammu, Bapak.

(“Bapak”, Murnita Dian /2007)

Sumbu berpacu dengan api, usia berpacu dengan waktu. Dan seusai waktu, begitu pula padamnya lentera bapakku..

Kamis, 15 Februari 2007, jam menunjukkan pukul 00.31, aku masih mengakrabi jalan raya sembari termenung. Besok aku harus kembali ke kampung. Harus. Kutekan tombol message di selulerku. Aku menghubungi abangku mengabarkan bahwa aku akan pulang esok hari dengan kereta terpagi. Abangku mengiyakan, dan dia ikut denganku. Kami berencana berangkat sore harinya.

Wajah-wajah sayu berlarian di mata. Terbayang di benakku, bapak yang sedang kritis dengan selang-selang medis bergayutan di tubuh ringkihnya..

Mata enggan sekali terpejam, entah apa yang menggayuti mataku. Berat sekali rasanya membuatnya lelap. Kupasrahkan diri dalam sujud tahajud dan dzikir, memohon ketenangan hati, kesembuhan bapak, dan kekuatan untuk keluarga kami dalam menerima ujian ini. Baru dua hari silam aku meninggalkan bapak, kembali ke Jakarta menyelesaikan pekerjaanku. Masih kuingat jelas, betapa semangatnya bapak ketika sesendok demi sesendok bubur dari tanganku masuk ke mulutnya yang kering, juga ketika kuusap tubuhnya yang dingin dengan minyak kayu putih.

Waktu cepat sekali memberi keputusan, aku lungkrah..terhantam..

Aku juga tak tahu mengapa keadaan begitu cepat memburuk. Ketika aku berpamitan untuk kembali ke Jakarta 2 hari lalu, rasanya bapak begitu ikhlas melepas kepergianku. Gula dan tensinya bisa dibilang sudah mendekati angka stabil. Aman. Hanya memang kadar HB nya menurun, dari angka 10 ke 9,7. Meskipun waswas dengan keadaan bapak, tapi mendengarnya menginginkanku untuk kembali bekerja, aku merasa kuat melangkah. Meski berat.

Aku sempatkan menelepon ibu dan kakak perempuanku, 3x sehari, bahkan setiap waktu untuk memantau perkembangan kesehatan bapak. Kabar terakhir yang kuterima waktu itu, lambung bapak harus dikuras karena obat dan makanan tidak bisa lagi masuk ke tubuh lewat mulut. Aku merasa limbung, aku memang harus segera pulang ke Solo. Kuniatkan untuk menyelesaikan pekerjaanku malam itu juga agar aku bisa mendapatkan izin besok pagi. Kulihat jam menunjuk pukul 01.00 ketika memasuki kos.

Bahkan matahari masih sangat enggan menghangat ketika kakak perempuanku mengabarkan bahwa bapak sekarang ada di dalam fase kritis. Aku harus pulang. Saat ini juga.

Sampai jam 03.00, aku tetap saja tak bisa memejamkan mata. Sekuat tenaga, sebisa mungkin kulafalkan kalam-kalam Ilahi agar setidaknya aku mendapat ketenangan  hati. Pukul 05.00 masih di hari yang sama, dering pesan dari seluler mengagetkanku. Aku tahu, sesuatu pasti telah terjadi. Kakak perempuanku mengabarkan bahwa bapak kritis.

Dengan masih terbalut mukena, sesaat setelah tertidur di atas sajadah, kukumpulkan segenap kekuatan untuk kembali bersujud pada Allah SWT. Sekuat mungkin kutahan tangis. Ya Rabb, berilah secercah mukjizatMu..

Entah darimana kekuatan itu datang..

Aku tak sempat berpikir apa-apa. Dari seorang karib, kudapat informasi, bahwa aku masih bisa mengejar kereta terpagi. Kusiapkan diri, berbekal uang 200 ribu yang kuambil dari tabunganku aku berlari keluar gang.

Abangku menelepon, aku harus ke rumahnya dulu di bilangan Kalideres. Kuiyakan. Kutunggu AC81 yang biasanya sudah hilir mudik pada jam itu. 05.30 aku berhasil menaiki bis. Sayangnya, kemacetan semakin membuatku ‘panas’. Di Pasar Minggu, bis tak bergerak sama sekali. Aku kalut.

06.30, selulerku berdering, ibu menelepon. Dadaku bergetar hebat. Bapak sudah tiada, aku terlambat. Aku tak sempat menungguinya menghadap Illahi Rabbi..

Kuputuskan keluar bis, berganti taksi. Aku tak bisa lebih lama lagi berada di bis. Perlahan taksi yang kutumpangi memasuki daerah Kalibata. Sial! Taksiku mogok. Mesinnya berhenti. Sempat terpikir untuk berganti ojek agar bisa lebih cepat sampai. Tapi aku masih bisa berpikir, untuk menjaga keselamatan diri. Aku tidak bisa sembrono.

Ya Allah, mengapa begitu berat jalan yang harus kutempuh untuk menemui bapak..

Segera kubayar taksi dan aku keluar mencari taksi lain untuk mengantarkan aku ke tempat Abang. Taksi bisa keluar dari macet dan mulai memasuki tol Tebet. Dadaku sesak.

Sampai di setengah perjalanan, mertua abangku menelepon bahwa aku langsung saja menuju bandara. Aku pun segera menelepon paman yang bekerja di bandara, untuk bisa mengusahakan tiket lewat travel.

Pukul 08.30 tepat aku sampai di bandara. Sejurus kemudian kulihat mertua abangku tergopoh menghampiriku. Abangku masih pingsan, syok mendengar kabar. Kuputuskan untuk mencari tiket bersama Pak Rasyid, mertua abangku.

Sekali lagi, kesabaran diuji. Tiket penerbangan untuk jam 09.00 sudah habis, untuk semua maskapai. Aku tahu, sulit mencari tiket dengan mendadak seperti ini. Paman juga tak bisa berbuat apa-apa.

Aku harus sampai di rumah, dengan jalan apapun. Yang terpikir hanyalah, bahwa jenazah bapak lebih baik tidak diinapkan. Karena jenazah orang dengan penyakit diabetes melitus akan berbau jika diinapkan karena cairan gula yang keluar dari lubang-lubang tubuhnya. Dengan keyakinan dan doa aku optimis bisa sampai Wonogiri hari ini.

Setengah jam berlalu, kakiku mulai lemas, apalagi tiket belum di tangan. Menyusur terminal ke terminal, dan belum menghasilkan apa-apa. Abangku baru datang bersama istri dan mertua perempuannya. Bersamaan dengan itu, Bulik (adik ibu) juga menyusul ke bandara dan memaksa ikut pulang. Abangku masih syok. Kududukkan dia di kursi.

Entah dari mana kekuatan itu muncul, aku berjalan cepat menyusuri lagi maskapai-maskapai penerbangan dari terminal C sampai F bersama kedua mertua abangku. Sambil terus berdoa, semoga Allah SWT masih memberiku kesempatan menghantar bapak ke peristirahatannya yang terakhir. Subhanallah..sujud syukurku ketika 4 buah tiket bisa didapat, meskipun dengan harga di atas normal itupun berhenti di Yogyakarta. Aku berangkat bersama Abang, mertua perempuannya, dan Bulik.

Sekali lagi, ujianMu harus kulalui. Setelah mendapat tiket, ternyata jadwal penerbangan di delay sampai 40 menit. Ya Allah beri aku kekuatan dan kesabaran lebih, untuk menjalani ujianMu ini..

Pesawat berangkat jam 11.50, kukukuhkan niat, demi bapak..Bismillahirohmanirrohiim..aku tidak boleh letih!

Kulangkahkan kaki menaiki tangga pesawat. Pesawatpun laju. Baru seperempat jam mengudara, cuaca mulai tidak bersahabat. Beberapa kali pesawat mengalami turbulance. Saya dan rombongan tak putus dzikir mengingat Allah dan berpasrah bahwa segalanya hanya akan terjadi dengan izinNya. Saat pesawat memasuki Yogyakarta, hujan deras menyambut kami. Alhamdulillah kami sampai dengan selamat. Lalu dengan langkah seribu aku mencari taxi service agar perjalanan ke Wonogiri bisa lebih cepat. Tiket taksi di tangan, kami segera melanjutkan perjalanan.

Kami sampai pukul 14.30 WIB. Rumah hijau kami dipenuhi para pelayat, termasuk kerabat, rekan, sejawat almarhum, juga teman-teman kami (anak-anaknya). Kucium tangan dan kedua pipi ibu yang sedang pingsan. Aku yang semula dengan penuh ketegaran diri berjalan, seketika lunglai melihat jenazah bapak. Bapak begitu tenang dan bersih. Wajahnya bersinar meskipun pucat. Aku pingsan di pelukan kakak perempuanku berkali-kali. Sampai ketika sadar dan merasa cukup kuat, aku segera beranjak mengambil air wudhu dan bersiap melaksanakan sholat jenazah dan tadarus sebelum bapak diberangkatkan.

Mendung dan tangis alam menghantarkan bapak kembali kepada sang Khalik..

Ibu dengan keadaan sangat lemah menguatkan diri mengantar bapak ke makam. Begitu juga kami, ketiga anak yang ditinggalkan bapak. Kami tidak lagi menangis. Kami tahu, bapak takkan membutuhkan itu. Bapak membutuhkan doa kami. Hanya mendung, tak ada hujan sepanjang hari itu. Alam ikut berduka menerima bapak.

Setelah serentetan ritual pemakaman dilaksanakan, kami kembali pulang, menyiapkan lagi jiwa baru mendoakan bapak tanpa putus. Kami ikhlas.

Bapak meninggal pada Kamis, 15 Februari 2007 pukul 06.30 WIB karena kecelakaan lalu lintas.. Bapak menyerah setelah terbaring di ICCU RSUI Kustati Surakarta selama 13 hari. Ibu dan kakak perempuanku (kusebut mereka dengan lantang, PEJUANG!!) dengan sangat tegar dan kuat membimbing bapak melantunkan syahadat dan shalawat menjelang putus ajalnya. Mereka berdua yang dengan setia dan ikhlas menemani bapak selama terbaring sakit, kritis, sakaratul maut sampai detik bapak menghembuskan nafas terakhirnya. Mudahkanlah jalan bapak menghadapMu ya Allah..lapangkan kuburnya..hiasilah dengan cintaMu, kami kembalikan bapak tercinta ke haribaanMu..tempatkan ia di tempat yang agung di sisiMu amin..amin..ya..rabbal alaamiin.

Sekarang bukan lagi kami yang menyelimutimu saat engkau kedinginan bapak, tapi alam.

Sekarang bukan lagi kami yang bersenandung untukmu saat kau galau bapak, tapi rumput dan pohonan

Tapi kami yang akan selalu menemanimu dengan lantunan doa, nyanyian dzikir, dan selimut tahajud agar kau selalu tenang di sisiNya

Selamat jalan bapak..

(Untuk bapakku tercinta, Sudarsono (Alm.) yang berpulang ke haribaan Sang Khalik..)

–Gatruh Gandhari Hanggoraras–

Selasa, 20 Februari 2007 (7 hari meninggalnya bapak)

Cerita dari Pintu ICU

Tuesday, February 13th, 2007

(Inilah Kasih Sayang itu..)

Kepala-kepala melongok setiap waktu. Menyaksikan wajah-wajah tak sadar dari balik pintu ICU Rumah Sakit Islam Kustati Surakarta, tempat bapakku (juga) terbaring sakit.

Bapak yang harus menjalani operasi karena kecelakaan yang mematahkan kaki dan (sedikit) meremukkan area lututnya, juga harus tinggal lebih lama di ICU karena kondisi tensi, lever, dan gula yang tidak stabil.

Kepala-kepala itu masih melongok di pintu ICU, juga ibu dan anggota keluargaku yang berkumpul menunggui bapak. Di balik pintu ICU yang tertutup rapat, terbaring 14 orang yang dirawat secara khusus dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Termasuk bapak. Lorong sempit menuju ruang ICU dan ICCU pun dipenuhi keluarga pasien yang menunggui anggota keluarganya yang sakit, seperti pengungsian.

Bagi penunggu pasien ICU, dipanggil perawat setiap saat adalah wajar. Jam 01.00 dinihari harus menebus obat pun hal biasa. Tidak ada acara tidur yang (setidaknya) menenangkan. Bunyi geredek pasien ditarik tengah malam, tidak lagi mengganggu acara tidur. Ada yang masuk, ada yang keluar. Ada yang tersenyum, ada yang berteriak-teriak histeris dan menagis.

Ada yang ditakuti ketika seorang pasien memasuki pintu ICU, pintu ICU adalah pintu hidup dan mati. Dimana orang-orang sakit yang masuk ke sana ada dalam tahap itu, membaik atau memburuk bahkan berhenti. Dan keadaan Bapak juga sempat memburuk karena melihat kondisi ‘teman-temannya’ yang keluar dalam keadaan tak lagi bernyawa.

Sore yang sangat mendung, sebuah geradak pasien mengangkut seorang gadis kecil yang tak sadar karena demam berdarah yang sudah akut. Di mulutnya sebuah ‘gudel’ (alat bantu nafas yang terhubung langsung ke tenggorokan) juga selang-selang infus dan oksigen . Kata orang-orang, keadaannya sudah parah. Orangtua dan keluarganya membentuk sebuah lingkaran, mereka menangis.

Saya sendiri, sedang tadarus dan sedikit terusik dengan keadaan itu. Tapi saya segera singkirkan perasaan itu dengan kata ‘maklum’. Sejurus kemudian, kira-kira 2 jam, keadaan menenang. Tak ada lagi teriakan histeris. Keadaan mungkin sudah lebih baik, pikir saya. Tapi tidak. Tangis kembali meledak. Si gadis kecil sudah tak lagi bernyawa. Si Ibu pingsan, si Ayah menangis sambil membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Saya trenyuh. Tadarus terhenti.

Jenazah dan jerit tangis beriringan keluar lorong ICU. Keluarga lain pun ikut larut dalam emosi yang sama, juga ketakutan, sebuah keadaan psikologis yang tertekan oleh keadaan lingkungan. Dan hanya dalam jarak beberapa jam, keheningan kembali pecah oleh isak tangis keluarga pasien yang menunggui seorang nenek yang sudah koma 40 hari.

Keesokan pagi yang tidak begitu cerah, dari ujung lorong terdengar bunyi geredek pasien mengangkut seorang lelaki dengan tato yang memenuhi badannya. Juga dengan peralatan medis yang tak kalah ruwetnya. Nafasnya tersengal-sengal, dia dalam keadaan koma. Imajinasi saya spontan menerawang, dia mungkin seorang preman yang entah ditusuk seseorang atau dihajar massa. Dugaan saya tak terlalu jauh meleset. Dari cerita yang saya dengar diam-diam (saya tidak suka disebut menguping), dia memang dihajar massa karena menyetir dalam keadaan mabuk. Dalam keadaan itu juga, kemudian mobil yang dia kemudikan menabrak sebuah bis (yang sedang berhenti) di depan kantor polisi. Tragis.

Tiga hari lelaki itu koma, saat pada hitungan bapak saya dirawat 9 hari di  ICU. Ketika saya dalam perjalanan kembali ke Jakarta, kakak saya memberi kabar bahwa si pria dengan banyak tato itu akhirnya meninggal.

Sudah tiga orang meninggal. Tapi di sisi lain, ada kabar bahagia juga ketika 2 ‘teman’ bapak keluar ICU, itu artinya si pasien boleh masuk bangsal atau malah pulang ke rumah.

ICU memang tempat yang mengerikan, dimana dipercaya orang yang masuk ke sana hanya akan dihadapkan pada kata sembuh atau mati. Tapi kemudian saya berpikir, mengulur sendiri pendapat saya. Ada ruang di ICU sebagai tempat menstabilkan kondisi, seperti yang dialami Bapak. Pendapat itu lebih menenangkan.

Hikmah bertabur, menunggui bapak di ICU selama hampir 9 hari, mengakrabkan keluarga kami. Dzikir dan tadarus bersama, kunjungan dan dukungan dari orang-orang dan kerabat membuat kami sekeluarga kuat. Ibu dan kakak perempuan saya, saya sebut mereka dengan lantang, pejuang! Di tengah intimidasi dan ancaman pihak penabrak bapak, ibu dan kakak saya bisa tetap bersemangat menunggui dan melayani bapak. Itu kemudian yang membuat saya semakin bertekad untuk segera pulang ke Solo (lagi) dan menemani Bapak juga keluarga saya. Kami semua optimis dan berharap (semoga terhindar dari takabur), bapak bisa segera membaik.

Cepat sembuh pak..kami semua mencintai bapak..

Inilah yang saya sebut kasih sayang itu (tanpa mendiskreditkan orang-orang yang memuja valentine sebagai hari kebesaran berkasih sayang), kasih sayang dan pengorbanan yang kita lakukan untuk orang yang kita cintai tanpa ada keinginan untuk dibalas dan mendapatkan lebih, kecuali dari Tuhan..Rabb..Sang Pemilik Kehidupan.

–Gatruh Gandhari Hanggorarasz—

Kustati Islamic Hospital Surakarta

Februari 13, 2007/ 02.30 WIB

KABAR

Friday, February 2nd, 2007

kabar

kabarmu mengetuk-ngetuk

tapi sayang pintuku telah berkarat kuncinya!!

jakarta, banjir bandang..

aku liputan dalam basah! 03.02.07