Kami mencatat itu, sebuah ruang sepi, bernama jarak.
Friday, March 30th, 2007Kami mencatat itu, sebuah ruang sepi, bernama jarak.
Di hati kita, masing-masing. Mengucap kata yang lentur bagai plastik dibakar. Menamai kesunyian di jiwa kita masing-masing dengan perumpamaan-perumpamaan yang kejam dan satir. Hidup kita, adalah jawaban, dan titian yang kita jalani sepanjang sejarah. Ruang sepi, hanyalah jeda, adalah jarak. Jangan mencarinya.
Sampailah kami di sebuah titik yang kami namai jarak, sebuah ruang sepi. Mata-mata runtuh dalam gelisah kota. Tanpa jawaban dan jejak yang menuntaskan bara. Sebuah ruang sepi bernama jarak, tanpa derai kabut dan nama.
Kami sampai pada sebuah tanda yang menebal di sebuah ruang sepi yang kami namai jarak itu. Dinding-dinding berkarat penuh goresan tinta yang sekarat. Udara yang pengap, penghabisan cuaca dan murka bumi yang bergolak di seantero jagad. Suaramu pecah, menjadi parau saat dingin merajam kelam dan khianat.
Kami menamainya sebuah ruang sepi, di mana ruam-ruam mimpi kami memerah bagai cendawan bermukim di selubuk kayu usang. Sebuah pertanda yang kau ucap perlahan meluntur tanpa ampun, aku meradang! “Aku akan meninggalkanmu di kejauhan sayang, belajarlah untuk lebih sabar meski kau hanya akan bisa memandangiku dari kejauhan..”
Hatiku masih getar ketika suaramu memcah hening dan aku sudah lelah. Berhenti saja di sini, sayangku. Di ruang sepi yang kita beri nama jarak ini. Aku letih mengembara bersama bayangmu. Hitunglah, sudah berapa lama kamu meninggalkan aku seorang diri. Sekarangpun sama. Berhenti saja. Jarak ini terlampau jauh.
Bertahun kami mencatat sebuah ruang sepi yang kami beri nama jarak itu. Bersama hujan, lolongan anjing malam, sapuan angin dan derak gelombang pasang. Bertahun kami juga akan kehilangan..
Sepasang mata mengawasimu dari kejauhan itu. Juga sebentuk cincin yang melingkari jari manisku. Bisakah kita saling mengunjungi dan berbagi dalam ruang sepi itu, seperti dulu? Jangan, jangan pernah membukakan pintu untuk siapapun itu untuk bertandang ke ruang sepi itu. Jarak itu, hanya kita yang tahu, hanya kita yang mencatatnya.
Sejarah jangan berulang sayang, jangan lagi ceritakan. Ini jarak, yang memetakan kesedihan dan tawa kita, yang kita catat sampai sejarah mengikat kita dalam pusaran kenangan yang tak hilang…
Seseorang pernah mencatat, bahwa kepedihan memang tak pantas dipercakapkan lebih panjang..meskipun hanya lewat sms.
Selesai.
Jakarta, menutup bulan dengan lengkingan yang parau..
Maret 30, 2007