Archive for July, 2007

Thursday, July 19th, 2007

Lagu padang

Sebuah lentera tibatiba padam. “Aku tak sedang menyalakan angin,” katamu. Namun bisik itu tak bisa berbohong, kau memang sedang bercanda dengan musim angin yang kau hempaskan perlahan ke lentera kita. Kalau memadam, bukan kuasa kita.

Redup sudah, bila tak ada cerita kemudian. Teringat betapa jiwa kita bersua di sebuah belantara padang. Sesaat terbawa, kala kita berlarian di padang yang teramat luas dan sesak oleh ilalang. Kau rautkan jiwa kita sebagai sebuah cermin yang retak di pinggirnya. Matahari adalah penjaga yang tak pernah letih hingga senja datang dan memaksa kita berhenti. Tapi keesokan harinya, kita bergumul lagi di padang, kita memang anak-anak padang. Yang bergelut dan berdarah di padang. Yang bermain dan beriring dengan ilalang di sekujur padang. Kita yang mengakrabi bebatu dan pepohon. Kita yang nyinyir ketika angin menggoda dan menghempaskan tiupan nakalnya ke telinga kita. Tapi kita anak-anak padang, yang tahu betul bagaimana menata langkah di sebuah padang, sebuah belantara.

Kita akrab dengan lelagu musim panas yang meretakkan gendang telinga setiap orang. Teriakan-teriakan khas anak padang yang bengal dan bertautan di sebuah ruang, kita sungguh mengenalnya. Di lembar-lembar musim kita tuangkan berlembar cerita tentang rumputrumput segar dan buah-buah angin yang jatuh di semaksemak. Kita paham, bagaimana burungburung berkicau parau, bagaimana embun menetes kasar, bagaimana langit melukis kesetiaan, kita sungguh paham.

Tapi sejurus, kita langkahkan arah ke lain benua, benua yang tak menyimpan padang seperti padang yang kita punya. Kaki membawa kita menjauhi padang dan belukar yang tak lagi kau rindukan. Ingatan telah melapuk dalam tiap jengkal perkara yang pernah kita tengkarkan. Kau tak lagi bernyanyi dan aku pun tak lagi ingin mendengarkanmu menyanyi. Kita sama-sama letih, lelah menunggu keasingan.

Padang yang telah kita asingkan sudah tak lagi merapat dengan badan. Kini telah gempa, telah retak ranahnya. Beberapa belukar terbakar karena musim yang memanas. Dan angin tak lagi nyaman berhembus. Mengobrak-abrik kelambu musim di tengah ceracau burung yang kian parau. Tak bisakah sejenak saja kau jenguk peraduan kita? Menyalakan lagi lentera yang padam karena angin yang gusar.   

Lentera telah padam. Angin meribut di belakang rumah kita. Pohonan beku dan embun yang menyeringai. Kita kelu, menatap padang yang tak lagi melagu rindu. Belukar tak menari lagi. Kau tak menatap lagi. Tak ada lagi nyanyi padang yang membirukan temaram langit. Sungguh satu yang ingin kutanyakan, “Kita menanti apa?”

July 19, 2007

(LH, Menyelami detik-detik berkutat di padang)

SEPERTI MATAMU YANG KETAKUTAN BERTATAP DENGAN MATAKU

Monday, July 2nd, 2007

seperti matamu yang ketakutan bertatap dengan mataku

: c.k

Kita hampar, pada sebuah ungkapan lama

Bahwa cinta memang tiba tepat pada waktunya.

Tapi kita kabut,

Ketika mata bertemu dan galau meracaunya.

Kita humus, ketika lautan cinta menengadah indah

Memeluk pagi dan malam kita dalam rindu yang utuh

Kita salju, ketika diammu menjadi api yang kukuh menelanku

Lalu, adakah kita badai

Ketika hanya riak kecil mampir dalam gulita kita?

Malam diam di sudut kota itu. Sekelebat badai mengetuk pintu kita.

Memang, ada sedikit canda tawa yang begitu ikhlas melepas kerinduan kita yang jamak. Mata yang tak habis bertatap, pun tangan kita yang berkait. Namun entah, matamu begitu katup, bunting (sepertinya) oleh kepedihan dan ketakutan yang sekali waktu datang, lalu di sekali waktu yang lain pergi entah kemana. Semacam duka yang begitu saja meluap, tiba-tiba.

Dan aku tahu, aku yang membuatmu begitu. Membuatmu kejang dalam risau dan beban yang begitu dalam. Aku yang membuatmu lagi akrab dengan sendirimu yang begitu saja mengasingkanku dalam hingar kita, beberapa waktu silam. Tapi tak kau tahu, bahwa kepedihan dan kekalutan kita seragam. Seperti benih-benih padi yang ditebar menghampar. Juga seperti segrombolan burung yang lepas terbang beriringan. Ketakutan kita pun serupa.

Entah pergumulan seperti apa yang tengah kau jalani, tapi aku risau. Aku risau dengan jawaban, aku kalut dengan ribuan pertanyaan, aku galau dengan diammu. Dan hendakkah kita berhenti? Memang belum setapak betul, kaki kita melangkah. Ketika waktu kemudian bersandar pada kisah kita. Berjalan dan bersidekap dengan satu demi satu keasingan yang mau  tak mau harus menemui penyesuaian. Kausebut aku perempuanmu, dan kau lelakiku. Kuhamparkan kisah kita pada bait-bait puisi dan berlembar doa yang khusuk dan lusuh..

Sedang angin sepertinya enggan lagi bergulir..ketika kau jabat tangan ini erat. Bukan tak inginku, tapi ini hanya bagian dari galau yang melarut dalam jeda kita. Ya, kau begitu ingin menangis. Kau begitu sedu dan aku tak tahu harus bicara apa. Pikiran-pikiran jahat berseliweran. Mungkin inilah awal yang sekaligus akhir. Dimana bercak-bercak mimpi tiba-tiba harus punah dan berdebu. Awal yang serba samar dan akhirnya sampai pada dunia sembab yang siang malam menteror kita.

Tapi aku tak akan pernah siap..

Sejenak, kita tiarap dalam beku. Mata kita lelah sudah menatap hampar pelataran rindu yang membatu itu. Sekarang, bukan lagi cemburu yang kita tuliskan, tapi tentang benteng yang akan kita bangun, tentunya bukan berpondasi keraguan.

(Sayang, kaucuplikkan rembulan, meski tak selalu utuh, di tiap malamku..)

Dan kulihat badai, seperti matamu yang ketakutan bertatap dengan mataku.

(LH–Yk, 20 Juni 2007)