SEPERTI MATAMU YANG KETAKUTAN BERTATAP DENGAN MATAKU
seperti matamu yang ketakutan bertatap dengan mataku
: c.k
Kita hampar, pada sebuah ungkapan lama
Bahwa cinta memang tiba tepat pada waktunya.
Tapi kita kabut,
Ketika mata bertemu dan galau meracaunya.
Kita humus, ketika lautan cinta menengadah indah
Memeluk pagi dan malam kita dalam rindu yang utuh
Kita salju, ketika diammu menjadi api yang kukuh menelanku
Lalu, adakah kita badai
Ketika hanya riak kecil mampir dalam gulita kita?
Malam diam di sudut kota itu. Sekelebat badai mengetuk pintu kita.
Memang, ada sedikit canda tawa yang begitu ikhlas melepas kerinduan kita yang jamak. Mata yang tak habis bertatap, pun tangan kita yang berkait. Namun entah, matamu begitu katup, bunting (sepertinya) oleh kepedihan dan ketakutan yang sekali waktu datang, lalu di sekali waktu yang lain pergi entah kemana. Semacam duka yang begitu saja meluap, tiba-tiba.
Dan aku tahu, aku yang membuatmu begitu. Membuatmu kejang dalam risau dan beban yang begitu dalam. Aku yang membuatmu lagi akrab dengan sendirimu yang begitu saja mengasingkanku dalam hingar kita, beberapa waktu silam. Tapi tak kau tahu, bahwa kepedihan dan kekalutan kita seragam. Seperti benih-benih padi yang ditebar menghampar. Juga seperti segrombolan burung yang lepas terbang beriringan. Ketakutan kita pun serupa.
Entah pergumulan seperti apa yang tengah kau jalani, tapi aku risau. Aku risau dengan jawaban, aku kalut dengan ribuan pertanyaan, aku galau dengan diammu. Dan hendakkah kita berhenti? Memang belum setapak betul, kaki kita melangkah. Ketika waktu kemudian bersandar pada kisah kita. Berjalan dan bersidekap dengan satu demi satu keasingan yang mau tak mau harus menemui penyesuaian. Kausebut aku perempuanmu, dan kau lelakiku. Kuhamparkan kisah kita pada bait-bait puisi dan berlembar doa yang khusuk dan lusuh..
Sedang angin sepertinya enggan lagi bergulir..ketika kau jabat tangan ini erat. Bukan tak inginku, tapi ini hanya bagian dari galau yang melarut dalam jeda kita. Ya, kau begitu ingin menangis. Kau begitu sedu dan aku tak tahu harus bicara apa. Pikiran-pikiran jahat berseliweran. Mungkin inilah awal yang sekaligus akhir. Dimana bercak-bercak mimpi tiba-tiba harus punah dan berdebu. Awal yang serba samar dan akhirnya sampai pada dunia sembab yang siang malam menteror kita.
Tapi aku tak akan pernah siap..
Sejenak, kita tiarap dalam beku. Mata kita lelah sudah menatap hampar pelataran rindu yang membatu itu. Sekarang, bukan lagi cemburu yang kita tuliskan, tapi tentang benteng yang akan kita bangun, tentunya bukan berpondasi keraguan.
(Sayang, kaucuplikkan rembulan, meski tak selalu utuh, di tiap malamku..)
Dan kulihat badai, seperti matamu yang ketakutan bertatap dengan mataku.
(LH–Yk, 20 Juni 2007)
June 9th, 2008 at 7:28 am
ketika susunan kata yang indah terganggu oleh kata bersliweran
June 9th, 2008 at 7:30 am
ketika susunan kata yang indah terganggu oleh kata bersliweran
June 9th, 2008 at 7:33 am
tertata rapi, tapi terusik oleh kata berseliweran