PETIKAN SIEM 2007

<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

FOLKCORN:
KLASIKA NEGERI KINCIR

Murnita DK*

Jangan
remehkan manula. Setidaknya, pemusik-pemusik sepuh dari Belanda ini
bisa dijadikan gambaran. Grup musik folklor (musik klasik Belanda),
Folkcorn, didirikan sejak 1972. Formasi yang eksis saat ini pun sudah
ada sejak 1980. Terbayang betapa kuatnya konsistensi mereka
memperkenalkan musik klasik Belanda ke seluruh dunia.

Pemain
akordionnya, Anneke Rot adalah yang termuda. Wanita Belanda ini lahir
dan sempat mencicipi kehidupan di pulau Jawa di daerah Purbolinggo.
Selain Anneke, komposisi Folkcorn terdiri dari pasangan Marja van der
Zee pada kendang-Jitze Kopinga (instrumen berdawai), dan saudara
laki-laki Marja, Laurens van der Zee pada suling dan bass.

Instrumen
tradisional menjadi pilihan bermusik mereka. Alat musik yang asing di
telinga kita, seperti alat musik petik dulcimer, suling besar
“bigpipe” dan chalumeau, gitar folklor, akordion, dan kazoo.
Folklor sejatinya adalah tarian dan nyanyian yang bercerita tentang
pesta, dansa, ksatirya, makanan, minuman dan cinta. Repertoar yang
mereka sajikan adalah musik folklor dari era 1400-1900 yang terdiri
dari lagu-lagu, balada dan madrigal yang dinyanyikan secara acapela.
Menariknya, lagu-lagu klasik ini dimainkan dalam konsep yang sedekat
mungkin dengan versi aslinya, meskipun ada juga beberapa yang
diaransir secara moderen.

Dalam
pertunjukan mereka di malam terakhir SIEM, mereka membawakan 4 buah
lagu. Ada lagu yang mengisahkan tentang nelayan yang tenggelam di
laut, juga kisah istri yang sedang marah. Pada sebuah lagu, Folkcorn
tampil atraktif dengan mengajak penonton ikut bernyanyi dalam bahasa
Belanda. Alhasil, irama tepukan tangan penonton semakin menghangatkan
suasana. Suasana semakin syahdu, ketika Laurens memainkan seruling
besar “bigpipe”. Hubungan baik ini seakan menghapus stigma
“penjajah Belanda” menjadi “kawan bermusik” yang menyenangkan
bagi Indonesia. 

*penulis adalah wartawan majalah Pena Pendidikan dan artikel ini dimuat dalam Majalah Pena Pendidikan edisi 16 (September 2007) dalam rubrik Seni Budaya

One Response to “PETIKAN SIEM 2007”

  1. Lupi Says:

    makanya bentuknya naratif, nggak ada emosi

Leave a Reply