nyala
NYALA
: kepada penjumpa pengelana
“Sebuah nyala memang tak selamanya membakar apa
yang ada di sekitarnya..”
Lagi, sebagai pengelana aku datang pada titian
musim yang lain. Sesekali bolehlah dikata ia lembut bagai terjemahan mentega
yang meleleh di hamparan roti bawang yang wangi. Tapi yang kutemui kali ini
adalah musim kering yang gersang. Sebuah gersang yang hampar di kedua kakiku.
Mengeringkan akal dan mimpi-mimpiku. Tak penting memang, hanya mimpi kecil
seorang pengelana.
Kau, kutuliskan di sini sebagai seorang
pencatat. Semacam Ki Pancaksara atau Prapanca yang menuliskan lelembar kisah
dari pejalan yang ditemuinya, entah di bumi sebelah mana. Kau juga yang
akhirnya menuliskan tentang nyala, nyala mataku. Nyala mata seorang pengelana. Kau
yang juga sering bertemu, dan sangat menghikmati pertemuan demi pertemuanmu
dengan pengelana-pengelana dari semua ujung dunia. Tak satupun dari mereka
tercecer dari catatmu. Larik demi larik yang kautuliskan dengan nafas
pemburumu. Ya, kau seperti pemburu yang tak pernah lengah membidik mangsa
dengan bedil tuamu. Dan saat ini, akulah yang menjadi sasaranmu.
Lalu entah bagaimana mulanya, cerita demi cerita
kulepas seperti seorang ksatria yang gagah melepas anak panahnya. Lepas, hampar
begitu saja. Dan entah mengapa juga kubiarkan kau menghayati kisah yang
kusampaikan dengan begitu syahdu. Kita berhadapan. Mata kita beradu. Bedilmu
mengarah jantungku. “Aku mendengar detak jantungmu,” katamu perlahan. “Aku
mendengarnya berderap, dan itu yang akan kucatat,” katamu lagi. Kau terus saja
berkata, menghentak-hentak jantung. Aku ingin sekali tak mempedulikannya, tapi
entah, mataku tiba-tiba memancarkan nyala yang panas dan galau. Aku jengah.
Kau sepertinya orang pertama yang meyakini bahwa
aku baik-baik saja. Padahal kau tahu pergelangan kakiku ini sudah mati rasa,
tumitnya pecah menjadi tak rupa lagi. Kuku-kukunya menghitam dan tak indah
lagi. Kakiku menghadapi sebuah hamparan padang luas dan tak menyimpan
sedikitpun teduh. “Ini tanah gersang,” memelas kukabarkan padamu tentang sebuah
kegelisahan. Daun-daun meranggas sebelum cukup tua. Angin dan pepohon tak lagi
bersahabat, tak lagi berjabat. “Ini sungguh gersang.” Dan kau masih saja tak
percaya. Kau menganggapku mengada-ada.
Sungguh betapa aku bergumul dan bercanda dengan
batu. Bebatu yang tak menyimpan gerak. Kau mengenalnya sebagai kota tua yang
dimana setiap orang bisa singgah kapan saja dan hidup dengan merdeka. Tapi ini
kegersangan yang nyata. Kugambarkan setiap sudutnya sebagai jejak-jejak tanpa
pertanda, sebagaimana sisa-sisa prasejarah dengan lembut menjarah kekinian.
Sungguh tuan, kukatakan padamu, “Tanah ini sungguh gersang.”
Kau menatap hamparan lanskapnya yang pasir dan
desir. Mataku yang selalu berair, dada yang sesak dan gemuruh otak yang selalu
ingin meledak. “Aku ingin muntah.” Ya, aku ingin muntah begitu saja, muntah
yang sebanyak-banyaknya. Selega-leganya.
“Matamu membakar apa saja di sekelilingmu.” Kau,
sekali lagi bergumam. Kau membuatku semakin bingung. Apa yang kubakar. Nyala
ini, kalaupun ada, hanya seperti nyala lampu teplok, kecil saja, tak mungkin
membakar apa yang ada. Bagaimana membakar, membawanya saja aku masih sangat
kedinginan. Apa maksudmu menuduhku seperti itu kawan?
“Bumi yang kauinjak gersang, dan kau membakarnya
dengan matamu yang menyala-nyala itu.” Kau berkata lagi sesuatu yang sulit
kupahami. Pelan kujawab, “Hanya nyala ini yang kupunya sekarang,” dengan
airmata yang tiba-tiba buncah,”Apakah itu mengganggumu, kalau ya, aku akan
berlatih meredupkannya.”
“Kaulah pengelana, yang membawa malam sebagai
ibumu dan geliat angin sebagai bapak yang melindungi langkahmu. Kau juga
pengelana yang setia dengan cinta dan kelembutan embun. Kau yang melukis
pelangi dengan citamu. Tak perlu kaupaksakan dirimu seperti itu. Biarlah nyala
matamu seperti adanya, juga geliat jiwamu. Jaga dan tegakkan ia sebagaimana
hujan membangkitkan bebiji. Juga dirimu, hadirkan ia sebagaimana citakan. Tak
perlu kaupedulikan aku, aku juga seorang pengelana malam. Aku hanya tak ingin
kau terbakar nyalamu sendiri.”
Kata-katamu bagai ribuan pisau yang menghunjam
jantung dan menyayat urat-uratku. Perih. Lalu kau berlalu begitu saja mungkin
ke entah yang begitu jauh, meninggalkan secarik kertas lusuh yang sedari dulu
kaubawa kemana-mana. Kubaca perlahan, aku mendengar detak jantungmu, dan
kutulis dalam catatanku..
Tiba-tiba sebagian diriku hilang terbawa angin.
Moksa.
Langitarum Hanggoraras,
Surakarta, 5 Desember 2007
June 5th, 2008 at 3:46 am
dan sambil berharap pengelana itu masih mau menoleh kebelakang