Sang Penghibur
Catatan Sang Penghibur
: Perjalanan Kontemplasi
Setiap perkataan yang menjatuhkan tak lagi kudengar dengan sungguh
Juga tutur kata yang mencela tak lagi kucerna dalam jiwa
Aku bukanlah seorang yang mengerti tentang kelihaian membaca hati
Kuhanya pemimpi kecil yang berangan
Tuk merubah nasibnya
Perjalanan sebuah kontemplasi mula dari sini. Kau tentu tahu, tak mudah mencapai dasar sebuah gua untuk bersetia pada perjalanan yang sekarang mulai terjal ini. Kontemplasi yang kumulai saat tiba dan pertama mengatur langkah di gua ini. Mengatur nafas hidup, menata pandangan jiwa, dan merangkai detak nadi. Menyumpal mulut dan telinga dengan sumbat yang entah terbuat dari apa, hingga aku tak akan bisa berkata dan mendengar apapun. Ya, aku akan melihat, mendengar, dan berbicara dengan hati nurani. Nalar, yang satu ini tetap kubiarkan berlarian, bahkan terbang jauh ke entah. Aku hanya ingin bermimpi, bahwa suatu saat aku akan menemui sebuah jalan yang terbentang, dan aku akan berlari sekencang mungkin. Sebuah jalan yang memetakan harapan dan mimpiku sendiri.
Oh, bukankah kupernah melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya
Lalu biarlah aku masyuk dengan redupku. Aku memang ingin seperti itu. Aku ingin merasai angin bercerita tentang dunia yang mengabur itu. Dunia yang di sana aku pernah melihat bintang yang begitu binar. Binar! Ya, terang sekali. Bukan kejora memang, bukan satu-satunya. Bintang yang menyala terang di hadapan, terang sekali!! Aku pernah sekali menyaksikannya di dunia itu. Tapi sekarang aku adalah pertapa yang lengang sudah dengan perkara bintang ataupun terang. Aku sudah harus bosan dengan kilau dan nyala yang silau itu. Tentang gelak tawa, sedih dan entah nestapa. Tentang tarian hidup macam itu.
Kugerakkan langkah kaki dimana cinta akan bertumbuh
Kulayangkan jauh mata memandang tuk melanjutkan mimpi yang terputus
Masih kucoba mengejar rinduku meski peluh membasahi tangan
Lelah penat tak menghalangiku
Menemukan bahagia
Aku berjalan terus dan terus. Aku tak cukup menghiraukan apa yang ada di sekitarku. Aku kukuh dengan jalan yang sekarang kutempuh. Dan di sepanjang lorong ini aku hanya akan berjalan dan memijak lantai gua yang dingin dan lembab itu. Aku akan mengakrabi lumut dan batu-batu dingin di permukaan gua ini. Bernyanyi dengan gemericik air yang mengalir di sungai yang mengalir lembut di kanan kiriku, bercanda dengan binatang-binatang seperti kalong, lintah, atau ular air yang menempel bagai lukisan di dinding gua. Aku ingin merasai lagi cinta di negeri yang sunyi ini, merasai datangnya cahaya. Bahkan dengan tangan kecilku ini, kupungut kisah demi kisah yang runut oleh semribit angin yang datang sembunyi-sembunyi menjengukku. Peluh menjadi sungai-sungai yang mengalir ke muara yang lapang sungguh. Hingga tiap meneguknya, aku jadi manusia baru yang lahir, lahir dari peraman rahim yang matang dan hangat. Ibunda, aku ingin lahir sebagai Bargawa yang membawa cinta, lahir sebagai ksatriya yang berhati brahmana. Aku ingin hadir sebagai mushashi yang hidup dengan janji, yang tak letih diuji. Seperti janjinya, “Berikan aku kelokan yang paling tajam, berikan aku jalan yang paling terjal, dan berikan aku angin yang paling ribut, biar aku bisa menjadi pengayun pedang terhebat dengan itu.” Itu janji seorang mushashi. Tapi ah sudahlah, aku hanya ingin lahir kembali dan meletakkan mimpiku di tempat yang seharusnya. Kulipat kakiku dan memejamkan mataku, merasai lagi puncak kelahiran yang akan kujemput.
Oh bukankah kubisa melihat bintang
Senyum menghiasi sang malam
Yang berkilau bagai permata
Menghibur yang lelah jiwanya, yang sedih hatinya
Bintang yang, yang bukannya tak bersinar, tapi ah, sinarnya lembut sekali. Ya, kuberanikan diri mencuplik sinar segi lima itu dari angkasa dan membawanya bersamaku. Langit tak akan gelap gulita kalau aku membawanya pergi. Dari lengkung mata gua ini, selepas jiwaku mengembara, aku akan duduk dan mulai memandangi sinar teduh ini. Kulekatkan mataku hingga aku bisa melihat dasarnya yang lapang dan jembar. Sebuah lapang yang menarik kaki dan tanganku untuk berlari dan menari di dalamnya. Ya, aku bisa merasai bintang itu menari di hadapanku. Bintang yang berbeda yang pernah kulihat dulu. Gua sembab ini menjadi binar karena sinar yang berlomba berpantulan di dinding-dindingnya.
Bukankah hidup ada perhentian
Tak harus kencang terus berlari
Kuhelakan nafas panjang
Tuk siap berlari kembali
Melangkahkan kaki
Menuju cahaya
Kutarik nafas panjang, panjang sekali. Setiap inci sel terbuka dan paru-paru menjadi penuh udara, lalu aku mengaturnya. Kutahan nafas beberapa detik dan entah mengapa begitu hampa. Namun ada jernih yang menyeruak dari kedalaman hampa itu. Jernih. Sejenak pikiranku terbang ke angkasa. Aku mencari-cari kepingan raga yang barangkali jatuh di entah. Aku tahu bahwa sesekali, memang, hidup harus berhenti. Dan sekarang aku berhenti. Sesaat, menikmati kembaraning raga berkelana dan berjalan hingga menapak bintang. Sampai catatan ini penuh petuah hidup yang kurakit dengan tangan dan kakiku sendiri. Dan penuh, kata-kata ibu kurekam dalam hati dan pikiran:
“Bahwa hidup itu seperti bola yang harus terus menggelinding dan sesekali berhenti, Nak.”
Aku percaya ibu. Aku akan menemukan waktu untuk berlari lagi.
Dari catatan “Sang Penghibur-Padi”
http://langitarumhanggoraras.blogspot.com
February 27th, 2008 at 1:53 am
Oh … nice …
ehmmmm
February 29th, 2008 at 6:37 am
ngeri rek…
March 2nd, 2008 at 3:39 am
Kaset PadI punya(nulisnya jgn lupa huruf P dan I gede!!)
Kapan balik??
hehehe…
kontemplasi yg alamiah…
June 4th, 2008 at 8:27 am
wsumpah…. aku tiru tulisanmu model ginian!!!!!!!!!