Sebadai Jeiju
Sebadai Jeiju*
: kaki, hati dan kerabatnya
“….Sekarang matahari bisa saja lebih dekat dengan kita, tapi bisa saja, tanpa sepengetahuan kita, matahari terasa jauh sekali. Bahkan tak akan terasa hangatnya sedikitpun. Tapi percayalah, di beberapa musim, matahari akan mendekat dan melumerkan kebekuan kita. Sebadai musim yang bergolak, adalah juga sebuah catatan. Tentang bagaimana kita menunggu cahaya itu mengalun seperti lelagu yang lahir dari mulut kanak kita, semasa dahulu….”
Dari riuh musim kawin burung, kutinggalkan sebuah peradaban yang begitu akrab matahari itu. Sebuah peradaban yang menyimpan nyeri dan ketakutan yang begitu kukuh. Hati dan kaki membawaku menuju sebuah lembaran sejarah baru. Kulangkahkan kaki membawa serta keping-keping hati di sebuah pulau putih dengan lautan berbuih dan udara bersalju, Jeiju. Udara dingin berkabut, menyapa tiap jengkal tulang dan merayapi tiap inchi pori-pori, sepanjang waktu. Matahari enggan turun. Berselimut rapat membenamkan harapan tiap manusia akan berkas-berkas cahaya. Hawa es yang abadi di lelangkah dan tetapak kaki, menyisakan hamparan kisah yang bergitu juga beku, tak pernah sublim.
Aku tak begitu paham, mengapa matahari seperti sungkan berpijar. Kukenang katamu, “Matahari itu satu, di manapun kau akan mampu melihatnya.” Luluh kukenang perkataanmu yang begitu membumbungkan jiwa dan pikirku. Tapi aku belum melihatnya di Jeiju.
Mari, kuceritakan tentang pulau putih ini. Hamparan salju yang menjadi halaman dan tempat bermain bagi anak-anak kecil. Selain juga laut dan langit yang tak selalu cerah. Di Jeiju airnya asin. Terkadang aku harus berjalan naik ke pegunungan untuk menemukan air tawar, untuk minumku. Aku tak biasa minum air asin. Dan sepertinya, warga di sini banyak yang menderita sakit karena tak meminum air tawar. Dan kau tahu, obatnya pun diramu dengan air asin! Sungguh mahalnya air tawar di bumi Jeiju. Banyak dari kami yang mencairkan salju untuk kami minum. Sepertinya asyik, tapi begitulah, air tawar menjadi semacam harta yang lebih pantas dijaga dari nyawa, pikirku.
Sewaktu hujan, kami akan menampung airnya di sebuah kolam penampungan besar di kaki bukit. Beberapa orang malas menampungnya, karena kata mereka sama saja. Rasanya akan sama asinnya. Apakah begitu bergaramnya pulau ini? Pulau putih dengan beberapa pepohon yang tak begitu subur dan sesemak yang juga tak banyak.
Ketika pagi menyelinap masuk ke rumah, udara masih saja begitu beku. Saat tungku menyala dan dengan malas kupanaskan air mandi, aku juga akan sangat repot membuka lembar demi lembar baju yang kukenakan sepanjang hari. Aku tak bisa menahan dingin. Pakaian yang kupakai bisa saja berlapis-lapis, juga selimut tebal dari bulu musang dan secarik kain untuk membungkus leherku.
~~~~~~~~~~~~
Sesungguhnya, aku akrab dengan dingin dan beku di masa kanakku. Tempat aku lahir dan lepas plasenta adalah sebuah dataran tinggi yang dingin dan bergunung di kanan kiri. Kau tahu, aku juga anak gunung yang suka bermain perang-perangan di kaki gunung. Di seberang rumah juga ada sungai kecil tempat aku dulu berenang dan berkecipak dengan riak air. Meski tak sebeku Jeiju, tapi tempat lahirku juga menyimpan dingin yang sama menusuknya. Namun matahari begitu dekat dari sini. Kala siang tiba, matahari seperti hendak memecahkan batok kepala. Aku pun selalu punya nyali keluar rumah di siang hari. Aku tak pernah takut matahari akan membakar kulitku, membuatnya legam seperti bokong panci ibuku.
~~~~~~~~~~~
Ah, Jeiju yang beku. Entah mengapa kaki dan hatiku mendarat di sana. Memang tak ada yang mengusirku dari dunia yang ribut itu. Tapi entahlah, aku seperti berhubungan dengan hawa panas yang memberontak di sekujur tubuhku. Segala yang mengalir seperti tiba-tiba ingin beku. Aku pun seperti tak punya kekuatan untuk mencegahnya, tiba-tiba pun meluluh dan begitu saja pergi menuju ujung dunia yang lain bernama Jeiju.
Jeiju yang mati. Sepertinya, semua orang malas hidup dengan air yang asin dan udara lembab bersalju. Hawa sakit tak henti mewabah di segala penjuru. Semua orang harus mampu menjadi tabib bagi dirinya sendiri. Pun aku. Hawa dingin, sekalipun aku kenal, tapi terkadang aku juga tetap gigil. Tulang-tulangku serasa ngilu dan sulit kugerakkan. Orang-orang semakin malas keluar rumah. Butiran salju juga sakit di mata, kalau jatuhnya seperti debu di gurun.
Jeiju yang berontak. Airmata tak akan banyak membantu. Hati dan tangan, sekali lagi yang bisa mengarahkan pelita ke Jeiju. Lalu kubiasakan diri, berlari ke pegunungan mencari air tawar, menampung air di kolam kala hujan, dan sedikit berlari ke timur untuk sekedar berjemur. Aku akan sedikit berkeringat dan aku akan lebih banyak menapak agar tak begitu sepi.
Jeiju yang bernyanyi. Salju lembut yang mendarat di pipi merahku, membuatku bernyanyi di pagi hari. Membuat pemburu yang baru pulang dari hutan mengerlingkan mata mereka, ikut bernyanyi dan menertawakan kabut yang turun kesiangan. Mereka menghadiahiku mulberry merah yang cukup tua dari hutan, sedikit masam tapi akan sempurna untuk dibuat selai.
Jeiju yang bercerita. Ah sungguh kaki ini selalu tertantang untuk melangkah di pedalaman Jeiju. Aku senang sekali menginjak salju yang masih muda untuk membuat jejak-jejak seperti jejak beruang lapar yang mengaum dari kedalaman hutan. Aku suka sekali mencari mulberry muda untuk kubuat manisan dengan sedikit gula dan cuka manis. Aku akan suka berlari dan membuat bulatan bola dari salju dan kulemparkan begitu saja ke jendela. Tak akan ada yang marah padaku, karena aku hanya sendiri di rumah ini.
~~~~~~~~~~~~
Beberapa waktu yang lalu, aku datang ke pulau ini dengan sebuah kapal dari pelabuhan kota riuh. Aku memang sengaja tak membawa banyak barang dan perbekalan. Pun harapan dan keinginan. Aku sungguh tak tahu mengapa ombak Jeiju tak sebegitu ganas, tapi tetap saja membuatku mabuk laut. Beberapa burung berseliweran menghiasi langit dan sesekali mengeluarkan bunyi-bunyian yang tentu saja tak selalu merdu. Sesekali pun berisik.
Jarak yang akan ditempuh adalah satu hari satu malam. Ombak yang begitu tenang menuju Jeiju. Aku larut dalam airmata yang entah darimana datangnya. Angin berhembus menyayat keheningan lamunanku. Dan entah mengapa Jeiju, sebuah tempat yang belum begitu kupahami, namun harus aku tinggali sendiri. Kaki dan hati ini sudah memilihnya, aku harus tinggal.
Aku berada di kapal bersama beberapa orang pedagang dan mereka yang ingin mengunjungi kerabatnya di Pulau Jeiju. “Kau hanya akan menemukan penjara,” kata seseorang. “Apa baiknya Jeiju untukmu, tak akan ada matahari di sana, aku pun hendak memindahkan ibuku yang sudah jompo dari sana, perkotaan akan lebih baik untuknya,” timpal yang lainnya. Ah tapi sudahlah, aku enggan berdebat dengan mereka. Bagiku, tujuan atau bukan yang pasti aku harus menetap di Jeiju. Entah pun ada kehidupan atau tidak di sana.
Matahari redup perlahan hilang dari pandangan. Malam bergulir seperti mengeluarkan ilmu sirep yang mencipta hawa kantuk luar biasa. Dan heran, aku tak kuasa memejamkan mata. Kapal terbuka dan layar yang kebat-kebit membuatku tak juga bisa duduk tenang. Di ujung kapal ada sebuah lentera kecil yang sudah tak nyala. Sekeliling kami sudah gelap. Tak ada cahaya tersisa. Aku bersandar pada sebuah tiang besar, menghadap laut, menuju Jeiju.
Angin berderak kencang, layar seperti tak kuat menahannya. Sejurus, sebuah komando menuntun kami memasuki sebuah ruangan kecil di dalam kapal. “Ada badai!” sebuah teriakan lantang membuyarkan lamunanku. Dan benar, angin meribut, layar berkelojot tak tentu arah. Kami kebingungan.
Perjalanan pertama yang kutempuh menuju Jeiju adalah perjuangan berat menaklukkan badai pasang. Berkali-kali tiang pancang berguncang seperti hendak jatuh. Angin semakin meribut dan menggoyang-goyang keyakinan kami. Mendung yang semula tak tampak berlarian di atas kepala kami. Gelombang yang kian melampaui tinggi tiang perahu menghantar kami pada kegelisahan yang tak berpintu keluar.
Perlahan udara mulai buyar. Pagi tampak, meskipun tak terlalu terang. Mungkin seperempat perjalanan lagi kami semua sampai di Jeiju. Kami tergeletak kepayahan dengan luka di masing-masing badan. Bau air laut seperti menyiramkan berliter bibit minyak ikan ke arah kami. Anyir. Beberapa hewan kecil terperangkap di kapal, memberi gambaran betapa keras ombak mengombang-ambingkan mereka dan kami, semalaman.
Ketika matahari sedikit menghangat, kami sampai di pelabuhan Jeiju. Kaki terasa berat dilangkahkan di barisan bukit yang putih dan beku. Perbekalan menipis, hanya tinggal sepotong roti tanpa keju dan sebotol kecil air tawar di tangan. Tapi rupanya, Jeiju juga surga. Banyak buah-buah hutan kecil yang juga enak dimakan. Sampai kemudian siang hari aku mulai mencari tempat tinggal.
Banyak rumah kosong yang begitu saja ditinggalkan penghuninya. Beberapa tetua berkata,”Mereka tak akan kembali, Jeiju adalah serpihan neraka bagi mereka yang sudah keenakan mengecap nikmat di pulau lain di seberang.” Leherku bergidik, aku tak tahu bumi seperti apa yang akan aku jelajahi ini. Tapi memang akan lebih baik bagiku untuk segera memulai penjelajahanku di tempat ini. Tempat yang dicap sebagai cuilan neraka ini.
~~~~~~~~~~~~~
Rumah kecil ini memang hanya untuk satu keluarga dengan satu orang anak, tapi bagiku ini sangat luas. Sedikit demi sedikit kukumpulkan tenaga untuk membuka kantong perbekalanku yang sudah kempes. Beberapa bajuku masih basah karena badai semalam.
Kurapikan rumah yang tak terlalu kotor ini. aku hanya memerlukan satu meja untukku selalu mencatat dan belajar. Di belakang rumah, ada kebun tanaman obat yang tak luas. Ada juga parit kecil yang dihuni kawanan katak gendut yang sibuk bernyanyi dan melompat-lompat. Mereka tak kedinginan.
Ketika sore tiba aku selalu sempatkan untuk berjalan-jalan mengitari bukit dan perumahan yang masih berpenghuni. Sekedar menyapa dan berkenalan. Di tempat ini banyak tumbuh sesemak yang ternyata tanaman obat. Rumput astragalus dan kumis kucing ternyata bisa tumbuh di sini. Keduanya baik untuk kesehatan.
~~~~~~~~~~~
Waktu bagiku untuk mempersiapkan makan malam. Ada beras merah juga pasta kacang yang belum matang. Aku akan ke pegunungan, mencari sumber air agar aku lebih enak makan. Dan sudahlah, tak perlu kau terlalu mengkhawatirkan aku. Aku masih baik-baik saja. Di sini banyak ikan dan tanaman buah. Aku pasti bertahan. Kau tak usahlah menyusulku.
Kau sudah hafal, ini adalah perjalananku yang kesekian. Dan kalau sekarang kaki dan hatiku mendarat di Jeiju, apakah kau juga akan sama sabarnya menanti aku pulang? Suratmu masih kubawa, dan aku juga akan setia menceritakan segala yang aku lihat dan catat tempat di bumi mana aku singgah. Hati, kaki dan kerabatnya akan mengikuti kemanapun arah nasib kita. Maka jadilah nahkoda yang kuat dan perkasa.
Sebadai apapun lautan yang aku seberangi, aku akan tetap berpegang pada kata-katamu, “Matahari itu satu.” Dan di Jeiju, meski belum tampak, matahari itu ada. Anggap saja dia sedang main petak umpet denganku. Akan kucari dia sampai ketemu. Aku berjanji.
~~~~~~~~~~
*Menurut serial Jewel in the Palace, Jeiju adalah sebuah pulau jauh dan terpencil di Korea. Di pulau ini,pada masa lalu, kerajaan membuang tahanan yang dijadikan budak atas kesalahan mereka kepada negara.
Langitarum Hanggoraras, 20 Agustus 2007
July 12th, 2008 at 12:01 am
salam sejahtera,
membaca kisah diatas, saya teringat kisah Jang Geum
yang juga satu kisah dalam hidupnya bersinggungan dengan
rumput astragalus.
demikian juga anda, di pulau yang sama Jeiju….:)
saya tertarik dengan kisah rumput astragalus, anda bisa cerita sedikit kah..?
saya denger ada 2000 macam rumput tersebut, bagaimana yang tumbuh di pulau Jeiju…
makaciiih…salam
tri