Archive for March, 2008

hikayat rokok

Thursday, March 6th, 2008

HIKAYAT ROKOK

“Peringatan Pemerintah : Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin.”

Anda hafal dengan slogan peringatan ini bukan? Bagaimana tidak, tulisan ini terpampang jelas di kemasan rokok atau di bagian akhir penayangan iklan produk rokok. Memang tidak ada yang aneh dengan kata-kata itu. Dengan membaca himbauan tersebut, diharapkan bagi yang merokok segera menghentikan kebiasaan itu, yang belum ketagihan agar tidak sampai pada tahapan nyandu, dan yang belum pernah mencoba diharapkan tidak perlu menyentuh barang itu. Jelas, bahaya yang ada pada setiap linting rokok memang harus diwaspadai.
Di sisi lain rokok adalah prestise. “Sensasi yang lain!”, begitu lontaran yang sering saya dengar dari teman saya yang perokok berat. Kalau bagi saya, rokok lebih mengarah pada “Menciptakan asumsi yang lain.” Karena pada bagian akhir dari slogan itu menyatakan bahwa rokok bisa mengganggu kehamilan dan kesehatan janin, maka jelas, rokok bukanlah barang yang sifatnya maskulin lagi. Bila dihubungkan, maka terkadang rokok pun menjadi semacam identitas atau kebanggaan bagi kaum  hawa. Untuk hal identitas ini, saya punya catatan tersendiri.
Bukan sore yang ramah, mendung dan gerimis. Jalanan yang tidak begitu ramai, malah mendekati sepi. Untuk ukuran jalanan di kampung memang hal yang lumrah. Saya berhenti di sebuah warung bakso dekat rumah. Sesaat kemudian serombongan orang datang. Tiga orang wanita yang salah satunya masih usia belasan dan seorang lagi laki-laki paruh baya. Keempatnya entah membicarakan dan menertawakan apa. Tapi mata saya tiba-tiba saja tertuju pada salah seorang dari ketiga wanita yang mengeluarkan bungkusan rokok dari saku bajunya, menyulutnya, dan menikmati kepulan asapnya. Bagi saya pribadi memang tidak ada yang aneh dengan apa yang dilakukannya. Tapi di tempat saya tinggal (di kampung tepatnya), wanita merokok di tempat umum pastilah mengundang reaksi. Saya bereaksi. Untuk pemandangan yang tak lazim itulah, mata saya seolah mempunyai alasan untuk menatapnya.
Tak disengaja, mata kami beradu dan entah, spontan terucap dari mulutnya,”Ngapa, Mbak? Weruh wong ngrokok.”1 Untunglah saya tak sempat kagok. Saya sudah cukup siap menangkis apa yang akan dikatakan sebagai reaksi balik atas tatapan mata saya. “Menawi badhe ngrokok nggih monggo.”2 Jawab saya datar. Semacam penolakan halus atas sikapnya yang kasar.
Saya pernah berada dalam lingkungan wanita-wanita perokok, beberapa sahabat yang berjenis kelamin perempuan juga merokok dan itu tidak menjadi masalah. Saya menganggap mereka butuh melakukan itu. Bahkan salah seorang dosen wanita saya yang terkenal kalem dan anggun pun ternyata seorang perokok aktif. Tidak ada yang salah dengannya karena sikapnya juga santun dan bicaranya tidak kasar. Jadi mengapa harus tersinggung dengan pandangan orang kalau memang kita berani bertindak “eksentrik” dalam lingkungan sosial yang masih konvensional? Memang rokok bagi wanita seperti sinonim dengan perbuatan yang liar, penggoda, wanita tidak bener, wanita nakal dan banyak predikat buruk yang akan disandang. Tapi mendengar apa yang dikatakannya, layaklah kalau saya berpikiran demikian. “Aku ora wedi mati. Rokok yo ra gawe mati. Yen mati yo gek dipendhem wae. Bandha wis akeh, anak prawan loro siji wis payu. Sing siji kuliah mesthi wae gek kerjo. Yen mati yo gek dipendhem, tak tinggali bandha akeh.”3
Kata-kata itulah yang menjadi pikiran saya. Apa iya orang hidup hanya ingin mencapai itu? Harta yang banyak, anak perempuan yang sudah laku? Ah betapa klisenya. Mungkin saja anaknya akan bahagia dengan warisan harta yang berlimpah. Tapi daripada itu semua, saya jauh lebih memilih ditunggui ibu lebih lama. Saya lebih memilih ibu saya bebas dari penderitaan sakit karena rokok dan bisa bermain dengan cucu-cucunya. Lebih jauh lagi saya tidak ingin ibu saya menyandang asumsi, predikat, atau identitas sosial macam itu.
Merokok, bagaimanapun sangat berhubungan dengan kultur atau adat daerah tempat tinggal kita. Wanita merokok, dimanapun itu, harus punya kesadaran bahwa tindakannya akan menciptakan reaksi bagi orang lain. Minimal rasa heran atau kaget. Meskipun tidak perlu seperti itu karena nenek saya juga hobi nglinthing mbako 4 dan menghisapnya seharian. Entah mengapa orientasinya berbeda. Jangankan sekedar asumsi, rokok bisa jadi menimbulkan reaksi-reaksi yang aneh, maaf..pandangan yang aneh lebih tepatnya. Saya pun tak henti gelengkan kepala.

1  Kenapa, Mbak. Melihat orang merokok. (Bhs. Jawa)
2 Kalau mau merokok ya silakan
3 Aku tidak takut mati. Rokok tidak akan membuat orang mati. Kalau mati ya dikubur saja. Harta sudah banyak, anak gadisku dua, yang satu sudah laku yang satunya kuliah sebentar lagi pasti segera kerja. Kalau mati ya dikubur saja, aku warisi harta yang banyak.
4 Melinting tembakau

surat buat bapak..

Thursday, March 6th, 2008

SURAT BUAT BAPAK*

Nah, Bapak, kukirimkan kabar padamu. Di sini tak mati lampu kan? Pemerintah sudah menaikkan tarif Pak, jadi kami harus berhemat, atau terkadang dipaksa berhemat dengan pemadaman lampu masal. Tapi itu tak penting, yang penting Bapak bisa membaca suratku meskipun gelap.

Bismillahir Rahmannir Rahiiim..
Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamin
Ar Rahmaanir Rahiim
Maaliki yaumiddiin
Iyyaaka na ‘budu wa iyyaaka nasta’iin
Ihdinash shiraatal mustaqiim
Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim
Wa ladh dhaalin.
Amin.

Apa kabarmu Bapak? Apakah kau merasakan juga tanah retak dan berdenyut. Apa kau juga tahu kalau hampir seluruh daratan di belahan bumi ini tersapu banjir? Ah Bapak, aku lupa mengabarkan padamu. Aku pun tak menonton berita sesering dulu. Malas rasanya menonton televisi yang isinya hanya sinetron tidak mutu. Tidak ada wayang kulit atau ketoprak humor yang sering kita tonton bersama dulu. Aku rindu, Pak. Rindu tertawa bersama, menertawakan Timbul yang melakonkan Petruk dadi Ratu. Wah Pak, sekarang tak ada lagi acara itu. Kalaupun ada, tak selucu dulu. Dan ingatkah kau Bapak, kau tertawa hingga terkentut-kentut waktu itu..

Ya, lama aku tak menjengukmu Bapak. Jangan marah Pak, sekarang aku jarang di rumah. Memang akulah oknum di rumah ini yang paling sering tidak ada di rumah. Aku sekarang kuliah di Solo, Pak. Ya, di kota kelahiranmu.  Terakhir kali aku sendirian datang ke kamarmu dan mengadu soal “kemarahan” itu. Kau tahu Bapak, rasanya hatiku panas sekali. Sampai-sampai aku tak mau pulang, dan begitu saja membabat tanaman-tanaman berduri di sekitar kamarmu hingga berdarah tanganku.

(Rasanya sudah begitu lama surat-surat aduan itu tak kukirimkan padamu, aku jarang lagi menjengukmu dan merapikan tempat tidurmu. Maafkan aku Bapak.)

Bapak, seharian ini hujan turun lebat, bahkan disertai angin. Sepertinya ada yang tersisa dari hujan dan angin ribut tadi. Kerinduan. Kapan Bapak bercerita lagi tentang “Kancil Nyolong Timun”, atau “Pak Tani Mbeleh Kethek” ketika hujan berpetir datang? Pak, nanti aku juga akan bercerita kepada cucu-cucumu tentang binatang-binatang itu. Seperti Bapak dulu. Sekarang tak seorangpun mau menceritakannya padaku. Aku sedih Pak. Tapi aku sekarang terbiasa membacanya sendiri. Itu lebih baik. “Mandiri,” katamu.

Pak, bagaimana kabarmu? Bagaimana kamarmu yang sekarang? Apakah kasurnya selembut kasur di kamarmu dulu. Bagaimana dindingnya? Apakah tembok tebal dan berwarna hijau terang seperti tembok rumah kita? Bagaimana atapnya Bapak, dari genting berkualitas bukan? Selimutmu? Sehangat selimut kita tidak? Ayolah ceritakan padaku Bapak..

Kata Ibu, bulan ini kami semua akan mengunjungi Bapak. Mengirimkan kabar-kabar dan lelucon-lelucon segar seperti yang kita lakukan dulu.Biar Bapak tak sendirian lagi di kamar, dan biar Bapak tahu, kami tidak pernah melupakanmu. Kata Ibu, kamar Bapak akan diperbaiki. Ah bukan diperbaiki, tapi diperindah. Tenanglah, kami juga akan membuat taman kecil di dekatnya biar kamar Bapak selalu segar. Bapak suka bunga apa? Biasanya kalau kami berkunjung, kami selalu membawa mawar putih dan melati segar. Bapak suka kan? Aku ingat itu bunga kesukaanmu. Baiklah, mawar putih saja, seperti biasanya.

Pak, rambutan yang kau rawat di halaman belakang dulu, sekarang lebat buahnya. Manis lagi. Buah srikayanya  juga berbuah banyak. Sekarang kebun belakang rumah jadi penuh tanaman yang waktu kautinggalkan masih setinggi lutut anak kecil. Oh ya, jambu batu di taman depan rumah sekarang juga semakin banyak penggemarnya. Aku dan Ibu memang membiarkan setiap orang yang berkehendak makan untuk mengambilnya. Sesuka mereka. Seperti Bapak dulu.

Pak, aku sekarang tidak bekerja lagi. Semoga saja aku bisa lebih mengirit uang saku. Aku malu minta pada Ibu. Tabunganku juga sudah menipis. Tapi kurasa masih cukup, ya meskipun mepet. Aku hanya menulis artikel lepas saja sekarang. Jualan ini itu untuk menutup kebutuhan. Tapi hidup tak boleh berhenti karena perkara uang kan? Uang itu masalah kecil, ya kalau kita tak menganggapnya sesuatu yang besar. Itu kata-katamu. Ah, sudahlah. Rezeki toh sudah ada yang mengatur. Semoga saja aku dapat pekerjaan baru sebentar lagi. Doakan aku ya Pak.

Apalagi yang mau kau tahu Pak? Oh, menantu? Wah, aku belum bisa jawab Pak. Aku ingin perkenalkan padamu, tapi waktunya selalu sempit. Nantilah kalau ada waktu luang aku akan perkenalkan calon mantumu kepadamu. Tapi sepertinya aku masih harus sembunyi-sembunyi dengan Ibu. Aku malu, Pak. Sekarang, masih terlalu pagi rasanya. Biar Mbak dulu yang menikah, mungkin akhir tahun ini. Bapak juga harus mendampingi Mbak dan aku kalau kami menikah nanti. Biar Mas yang jadi wali nikah, tapi Bapak harus ada di sana. Janji ya?

Nah, Pak aku harus pulang dulu. Besok kukirimkan kabar-kabar terbaru untukmu. Sampaikan salamku untuk Tuhan, bilang padaNya, kami semua mengucapkan terimakasih karena Dia telah merawatmu dengan sangat baik. Sekarang Bapak tidur ya. Semoga saja kamar Bapak sekarang tidak bocor seperti rumah kita.

(Ya Allah, Rabb..lapangkanlah kubur Bapakku, hiasilah dengan cintaMu yang tak pernah habis, ampuni segala dosanya dan jauhkan ia dari siksa akhiratMu. Amin.)

Salam kangen
Nanda Nita—di dunia.

Surakarta, 4 Maret 2008
*Mengenang 383 hari meninggalnya Bapak.
Ya, kehilangan ini sepenuhnya milik saya dan keluarga. Saya pun tidak menuntut orang lain memaklumi itu. Saya menuliskannya bukan untuk membagi kesedihan. Hanya ingin dengan tulus menyampaikan kepada Almarhum (meski juga tak terbaca oleh beliau) bahwa kami selalu dan tak pernah berhenti mencintainya.
Kehilangan ini, adalah pukulan telak bagi kami sekeluarga. Kami seperti kehilangan tiang penopang. Tapi tiada lain, hanya kesyukuran atas segala nikmat yang telah kami terima, baik nikmat menangis maupun bahagia. Kami ikhlas, hanya saja terkadang memory otak memutarnya kembali tanpa izin dan mengganggu yang lain.
Penting bagi kami untuk menyediakan waktu, menatap kehilangan itu, dan membiarkannya berlalu bersama doa-doa kami yang tak putus.