surat buat bapak..

SURAT BUAT BAPAK*

Nah, Bapak, kukirimkan kabar padamu. Di sini tak mati lampu kan? Pemerintah sudah menaikkan tarif Pak, jadi kami harus berhemat, atau terkadang dipaksa berhemat dengan pemadaman lampu masal. Tapi itu tak penting, yang penting Bapak bisa membaca suratku meskipun gelap.

Bismillahir Rahmannir Rahiiim..
Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamin
Ar Rahmaanir Rahiim
Maaliki yaumiddiin
Iyyaaka na ‘budu wa iyyaaka nasta’iin
Ihdinash shiraatal mustaqiim
Shiraathal ladziina an’amta ‘alaihim ghairil maghduubi ‘alaihim
Wa ladh dhaalin.
Amin.

Apa kabarmu Bapak? Apakah kau merasakan juga tanah retak dan berdenyut. Apa kau juga tahu kalau hampir seluruh daratan di belahan bumi ini tersapu banjir? Ah Bapak, aku lupa mengabarkan padamu. Aku pun tak menonton berita sesering dulu. Malas rasanya menonton televisi yang isinya hanya sinetron tidak mutu. Tidak ada wayang kulit atau ketoprak humor yang sering kita tonton bersama dulu. Aku rindu, Pak. Rindu tertawa bersama, menertawakan Timbul yang melakonkan Petruk dadi Ratu. Wah Pak, sekarang tak ada lagi acara itu. Kalaupun ada, tak selucu dulu. Dan ingatkah kau Bapak, kau tertawa hingga terkentut-kentut waktu itu..

Ya, lama aku tak menjengukmu Bapak. Jangan marah Pak, sekarang aku jarang di rumah. Memang akulah oknum di rumah ini yang paling sering tidak ada di rumah. Aku sekarang kuliah di Solo, Pak. Ya, di kota kelahiranmu.  Terakhir kali aku sendirian datang ke kamarmu dan mengadu soal “kemarahan” itu. Kau tahu Bapak, rasanya hatiku panas sekali. Sampai-sampai aku tak mau pulang, dan begitu saja membabat tanaman-tanaman berduri di sekitar kamarmu hingga berdarah tanganku.

(Rasanya sudah begitu lama surat-surat aduan itu tak kukirimkan padamu, aku jarang lagi menjengukmu dan merapikan tempat tidurmu. Maafkan aku Bapak.)

Bapak, seharian ini hujan turun lebat, bahkan disertai angin. Sepertinya ada yang tersisa dari hujan dan angin ribut tadi. Kerinduan. Kapan Bapak bercerita lagi tentang “Kancil Nyolong Timun”, atau “Pak Tani Mbeleh Kethek” ketika hujan berpetir datang? Pak, nanti aku juga akan bercerita kepada cucu-cucumu tentang binatang-binatang itu. Seperti Bapak dulu. Sekarang tak seorangpun mau menceritakannya padaku. Aku sedih Pak. Tapi aku sekarang terbiasa membacanya sendiri. Itu lebih baik. “Mandiri,” katamu.

Pak, bagaimana kabarmu? Bagaimana kamarmu yang sekarang? Apakah kasurnya selembut kasur di kamarmu dulu. Bagaimana dindingnya? Apakah tembok tebal dan berwarna hijau terang seperti tembok rumah kita? Bagaimana atapnya Bapak, dari genting berkualitas bukan? Selimutmu? Sehangat selimut kita tidak? Ayolah ceritakan padaku Bapak..

Kata Ibu, bulan ini kami semua akan mengunjungi Bapak. Mengirimkan kabar-kabar dan lelucon-lelucon segar seperti yang kita lakukan dulu.Biar Bapak tak sendirian lagi di kamar, dan biar Bapak tahu, kami tidak pernah melupakanmu. Kata Ibu, kamar Bapak akan diperbaiki. Ah bukan diperbaiki, tapi diperindah. Tenanglah, kami juga akan membuat taman kecil di dekatnya biar kamar Bapak selalu segar. Bapak suka bunga apa? Biasanya kalau kami berkunjung, kami selalu membawa mawar putih dan melati segar. Bapak suka kan? Aku ingat itu bunga kesukaanmu. Baiklah, mawar putih saja, seperti biasanya.

Pak, rambutan yang kau rawat di halaman belakang dulu, sekarang lebat buahnya. Manis lagi. Buah srikayanya  juga berbuah banyak. Sekarang kebun belakang rumah jadi penuh tanaman yang waktu kautinggalkan masih setinggi lutut anak kecil. Oh ya, jambu batu di taman depan rumah sekarang juga semakin banyak penggemarnya. Aku dan Ibu memang membiarkan setiap orang yang berkehendak makan untuk mengambilnya. Sesuka mereka. Seperti Bapak dulu.

Pak, aku sekarang tidak bekerja lagi. Semoga saja aku bisa lebih mengirit uang saku. Aku malu minta pada Ibu. Tabunganku juga sudah menipis. Tapi kurasa masih cukup, ya meskipun mepet. Aku hanya menulis artikel lepas saja sekarang. Jualan ini itu untuk menutup kebutuhan. Tapi hidup tak boleh berhenti karena perkara uang kan? Uang itu masalah kecil, ya kalau kita tak menganggapnya sesuatu yang besar. Itu kata-katamu. Ah, sudahlah. Rezeki toh sudah ada yang mengatur. Semoga saja aku dapat pekerjaan baru sebentar lagi. Doakan aku ya Pak.

Apalagi yang mau kau tahu Pak? Oh, menantu? Wah, aku belum bisa jawab Pak. Aku ingin perkenalkan padamu, tapi waktunya selalu sempit. Nantilah kalau ada waktu luang aku akan perkenalkan calon mantumu kepadamu. Tapi sepertinya aku masih harus sembunyi-sembunyi dengan Ibu. Aku malu, Pak. Sekarang, masih terlalu pagi rasanya. Biar Mbak dulu yang menikah, mungkin akhir tahun ini. Bapak juga harus mendampingi Mbak dan aku kalau kami menikah nanti. Biar Mas yang jadi wali nikah, tapi Bapak harus ada di sana. Janji ya?

Nah, Pak aku harus pulang dulu. Besok kukirimkan kabar-kabar terbaru untukmu. Sampaikan salamku untuk Tuhan, bilang padaNya, kami semua mengucapkan terimakasih karena Dia telah merawatmu dengan sangat baik. Sekarang Bapak tidur ya. Semoga saja kamar Bapak sekarang tidak bocor seperti rumah kita.

(Ya Allah, Rabb..lapangkanlah kubur Bapakku, hiasilah dengan cintaMu yang tak pernah habis, ampuni segala dosanya dan jauhkan ia dari siksa akhiratMu. Amin.)

Salam kangen
Nanda Nita—di dunia.

Surakarta, 4 Maret 2008
*Mengenang 383 hari meninggalnya Bapak.
Ya, kehilangan ini sepenuhnya milik saya dan keluarga. Saya pun tidak menuntut orang lain memaklumi itu. Saya menuliskannya bukan untuk membagi kesedihan. Hanya ingin dengan tulus menyampaikan kepada Almarhum (meski juga tak terbaca oleh beliau) bahwa kami selalu dan tak pernah berhenti mencintainya.
Kehilangan ini, adalah pukulan telak bagi kami sekeluarga. Kami seperti kehilangan tiang penopang. Tapi tiada lain, hanya kesyukuran atas segala nikmat yang telah kami terima, baik nikmat menangis maupun bahagia. Kami ikhlas, hanya saja terkadang memory otak memutarnya kembali tanpa izin dan mengganggu yang lain.
Penting bagi kami untuk menyediakan waktu, menatap kehilangan itu, dan membiarkannya berlalu bersama doa-doa kami yang tak putus.

2 Responses to “surat buat bapak..”

  1. Lupi Says:

    rasa itu ketika kamu pulang dead line dengan bapak yang sakit keras dan meninggal tergambar ketika nenekku meninggal dan aku tidak bisa bergerak di Bengkulu…. Suratmu adalah inspirasiku untuk menulis surat juga kenenekku

  2. Lizthya Says:

    tak sengaja mengklik artikel ini membuatku menitikkan air mata haru…semoga ketegaran selalu menyertaimu sobat!!

Leave a Reply