Yang Tercatat dari Batu dan Daun Cemara

YANG TERCATAT DARI BATU DAN DAUN CEMARA

Berikan batu dan daun cemara tertinggi di Pulau Jawa ini pada anak- anak sastra!” (Soe Hok Gie)

Seorang pemuda, kurus badannya, duduk di puncak Gunung Semeru danmeneriakkan kata-kata itu dengan lantang. Dia seperti menemukan kembali dirinya, menemukan begitu saja apa yang dia cari selama ini. Bahkan ketika jenazahnya dibawa turun ke tanah, sepertinya kata-kata itu masih bergema. Namanya, Soe Hok Gie, seorang mahasiswa Jurusan Sejarah Fakultas Sastra UI. Tapi lupakan sejenak Gie, karena batu dan daun cemara tertinggi itulah yang akan dikupas, dan mengapa harus anak-anak sastra yang menerimanya.

Dipercaya atau tidak, sastra adalah awal peradaban. Manusia kuno mencoret, menggambar, meramal, dan itulah peradaban dimulai dengan sastra, meskipun istilah sastra belum dipakai pada saat itu. Dan itulah batu, sebuah tonggak yang tidak dengan main-main dipancangkan. Sastra juga yang menjadi perlambang bahwa sastra tidak bisa sembarangan dihilangkan, karena bila dihilangkan maka akan hilang pula peradaban. Itulah daun cemara tertinggi, sebuah pencapaian alami manusia. Rentetan sejarah yang mengalir dalam diri manusia itu bernama sastra. Sastra adalah sesuatu yang berbeda karena batu yang sudah dipancang dan daun cemara tertinggi yang dicapai.

Pertanyaan yang ketiga, mengapa harus anak-anak sastra yang menerimanya? Pendidikan seperti apa yang akan dijalankan dengan sastra? Apakah anak-anak sastra masih menyimpan batu dan daun cemara, menyimpan konsistensi dan idealisme sebagai anak sastra? Sistem membuat sejarah berputar, sistem yang membuat segalanya juga berubah. Mahasiswa seperti kehilangan ruh “sastra” dan mulai gamang menentukan, akankah jadi idealis atau apatis? (meski dalam konteks menjadi mahasiswa masih ada pilihan untuk menjadi oportunis, skeptis dan lain sebagainya). Ruang-ruang “sastra” tak lagi dibuka, budaya berdialektika seperti hilang begitu saja, dan perang tulisan sudah tidak pernah lagi ada. Yang tersisa hanyalah sebuah ungkapan Jawa, “Nerima ing pandum.” Menerima apapun yang diberikan, memakan apapun yang disuapkan.

Pendidikan, apapun bentuknya adalah sebuah cara yang paling efektif bagi tiap manusia untuk mengembangkan diri, menggali kehidupan. Dan karena sudah di kapitalkan, kita justru punya pilihan tegas, memilih yang terbaik. Sebagai konsumen, tidak ada salahnya kita memilah dan memilih apa yang akan kita beli. Di sini, kami adalah konsumen untuk universitas terbaik ini. Kami memilih menjadi mahasiswa jalur non reguler, transfer dari Diploma III.

Perlahan, kemampuan kami beradaptasi dituntut berjalan dengan cepat menyerap apa yang dilaksanakan dalam sistem pendidikan yang diselenggarakan pihak universitas. Rupanya pluralitas dalam kelas, yang separuh berasal dari universitas lain, tidak begitu saja bisa menerima kebijakan-kebijakan yang berlaku. Kuliah berjalan terus, menelan ilmu setiap hari. Tak ada budaya sastra (apalagi beasiswa) bagi kami. Sistem yang ada sedikit banyak memberikan pola yang sulit untuk kami terima. Kami harus belajar untuk mencetak nilai bagus dan IPK cum laude ketika lulus nanti. Idealisme kami bahwa ilmu haruslah bermanfaat, dan itu adalah tanggungjawab moral pendidikan. Insting dan “darah muda” memang saatnya bergolak. Kami haus informasi dan fasilitas untuk bergerak. Kami sadar, harus ada inisiatif mandiri untukbabat alas, membuka jalan ke depan dengan lebih sering berdialog dan melebarkan wawasan dengan cara kami sendiri. Diskusi buku, film, sampai obrolan ringan mengenai kegiatan-kegiatan kampus yang kami temui. Belum membuka jalan, hanya sedikit membuka celah. Yang kami usung, konsistensi namanya. Seperti kata Emha Ainun Nadjib, konsistensi kelak yang akan membuka jalan. Di sini kami berusaha mengurai simpul-simpul dialog yang tertutup, membuka kembali ruang-ruang sastra yang tak lagi terpakai, dan berperang wacana dengan tulisan. Mengembalikan ruh sastra.

Tapi perkara “sastra mau kemana?”, kami tak tahu. Apa yang kami kembalikan memang hanya sekedar hidup di dalam komunitas kecil kami. Sastra Inggris yang justru tidak ada jurusan sastra murninya, atau dialog satu arah perkuliahan setiap hari, mungkin itu juga masa depan kami. Karena itu yang kami hadapi setiap hari.

Sastra adalah media, tempat mondar-mandirnya informasi dan ilmu yang tak terukur nilainya, lebih tepatnya pergumulan peradaban. Dan pendidikan dalam jalur sastra berarti membangun karakter. Karakter mahasiswa sastra yang cerdas dalam berilmu dan bijak menyikapi kebijakan yang ada. Bukan sekedar menerima sekedarnya.

Batu pancang itu kami tanam lagi dengan harapan mampu mencapai puncak daun cemara tertinggi, tak hanya di bumi Jawa, tapi di sudut manapun di dunia. Dan sastra kami adalah bekal, tak boleh tertinggal.

(Angin berhembus lembut di sela dedaun cemara di Semeru, “Gie tidak sendiri.”)

Leave a Reply